Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 04:00 WIB

Yusril, Habis Advokasi HTI, Terbitlah Bela Jokowi

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 6 November 2018 | 22:53 WIB

Berita Terkait

Yusril, Habis Advokasi HTI, Terbitlah Bela Jokowi
Yusril Ihza Mahendra - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Langkah Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra yang menerima menjadi pengacara pasangan Jokowi-Ma'ruf Amin menimbulkan perbincangan hangat publik. Pemicunya Yusril yang selama ini dikenal sebagai kritikus pemerintah justru balik badan menjadi pembela hukum kandidat petahana.

Sejak pendaftaran capres-cawapres pada 10 Agustus 2018 lalu, posisi Yusril dan PBB belum teridentifikasi afiliasi politiknya, apakah mendukung pasangan nomor urut 01 atau nomor urut 02. Meski, saat ijtima' ulama pada awal Agustus lalu, Yusril mendapat panggung di acara yang dikemas sebagai musyawarah para ulama itu. Ijtima Ulama I menghasilkan dukungan kepada Prabowo dan dua cawapres yakni Salim Segaf serta Ustadz Abdul Somad.

Pergerakan politik khususnya di koalisi Prabowo jelang penutupan pendaftaran capres-cawapres berjalan dinamis, yang ujungnya menghasilkan pasangan Prabowo-Sandi. Empat partai politik tergabung dalam koalisi ini yakni Partai Gerindra, PKS, PAN dan Partai Demokrat. PBB yang semula digadang-gadang dalam koalisi ini, tidak terlibat dalam pencalonan pasangan nomor urut 02.

Kala itu, Yusril memastikan pihaknya tidak mendukung Jokowi maupun Prabowo. Yusril menegaskan pihaknya akan mematuhi perintah ulama dengan menunggu hasil ijtima ulama II. Kekecewaan Yusril atas pilihan Prabowo kepada Sandiaga Uno, saat itu tak bisa ditutup-tutupi. "Lha, yang berkhianat tidak memilih pendamping Prabowo adalah seorang ulama, itu siapa? Memang saya?" kata Yusril kala itu.

Posisi Yusril kala itu benar-benar terpojok. Pertanyaan kritis dari publik soal mengapa PBB tidak menjatuhkan pilihan terhadap pasangan Prabowo-Sandi, yang nyatanya mendapat dukungan dari ulama. Di sisi lain, Yusril mengatakan, pihaknya akan ikut pendapat ulama. "Kami kan partai Islam," begitu argumentasinya.

Sepekan setelah pendaftaran capres-cawapres, Yusril mengatakan PBB tidak akan mengambil sikap yang tergesa-gesa dalam menentyukan pilihan politiknya. Ia beralasan, Pemilu 2019, saat itu, masih delapan bulan dilaksanakan. "PBB tidak ingin grusa-grusu ambil keputusan. Keputusan harus diambil dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang," tulis Yusril di akun Twitternya pada 16 Agustus 2018.

Hampir tiga bulan berselang sejak penutupan pendaftaran capres-cawapres 10 Agustus 2018 lalu, Yusril atas nama profesionalnya menjadi pembela pasangan Jokowi-Sandi. Yusril memastikan posisinya sebagai pembela Jokowi-Maruf Amin gratis alias tidak ada bayaran. "Saya menerima menjadi lawyer-nya Pak Jokowi-Pak Ma'ruf sebagai lawyer profesional," sebut Yusril.

Merujuk kicauan Yusril pada tengah Agustus 2018 lalu, pilihan Yusril bersedia menjadi pengacara Jokowi tentu melalui pertimbangan yang matang dan kalkulatif, penuh pertimbangan dan perhitungan

Pintu masuk Yusril ke pasangan Jokowi-Marf melalui profesinya sebagai pengacara menarik untuk dicermati. Pasalnya, sisi lain Yusril selain sebagai pengacara, ia juga menjadi Ketua Umum PBB, salah satu peserta pemilu 2019 mendatang. Apakah mungkin Yusril sebagai profesional membela Jokowi-Ma'ruf, namun di sisi lainnya sebagai Ketua Umum PBB, Yusril tidak mendukung Jokowi? Hal ini merupakan kemungkinan yang mustahil terjadi.

Lalu bagaimana dengan posisi pilihan politik PBB dalam Pemilu 2019 mendatang? Secara formal, hingga saat ini, PBB masih dalam posisi netral, tidak mendukung paslon 01 serta paslon nomor 02. Keterlibatan Yusril sebagai pembela Jokowi, secara formal tidak bisa disebut sebagai bentuk dukungan PBB ke pasangan petahana ini.

Di sisi lain, jika merujuk hasil riset beberapa lembaga survei belakangan yang dirilis menempatkan partai besutan Yusril ini berada di deretan partai nol koma alias sulit menembus batas ambang keterwakilan di parlemen (parliamentary threshold). Hasil yang tentu tidak diinginkan Yusril sebagai pendiri sekaligus ketua umum partai yang lahir di era reformasi ini.

Pilihan Yusril menjadi pengacara Jokowi-Ma'ruf bila itu disebut sebagai sikap profesionalisme, tentu dengan sendirinya terbantahkan dengan sikapnya yang tidak menerima bayaran sepeserpun atas jasa profesioanlismenya sebagai pengacara.

Bila pun pilihan Yusril disebut sebagai manuver politik, lalu apa target politik Yusril? Masuk di lingkar dalam kandidat petahana dimaksudkan sebagai upaya menyelamatkan partai besutannya agar lolos ke Parlemen? Tentu spekulasi yang serampangan, sulit menemukan rumusannya, setidaknya secara faktual gairah publik memilih PBB tak tampak di lapangan.

Pilihan Yusril menjadi pengacara pasangan Jokowi-Ma'ruf yang nyata telah menghasilkan tanda pagar yang bertengger di urutan pertama pada Senin (5/11/2018) malam dengan tanda pagar (tagar) #JokowiBersamaPengacaraHTI, tanda pagar yang mayoritas disuarakan pemilik akun yang terafiliasi ke pasangan nomor urut 02 itu memiliki makna yang beragam.

Di antaranya sebagai bentuk kekecewaan atas sikap Yusril menjadi pembela Jokowi serta bentuk perlawanan atas tanda pagar sebelumnya yang juga sempat merajai tangga tema populer di twitter dengan tanda pagar #JanganSuriahkanIndonesia sebagai tagar sarkas atas demo bela tauhid yang muncul Humat pekan lalu. Akhirnya, Yusril habis bela HTI, terbitlah bela Jokowi.

Komentar

Embed Widget
x