Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 03:56 WIB

Prabowo Korban Framing, Kini Soal 'Wajah Boyolali'

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 5 November 2018 | 16:45 WIB

Berita Terkait

Prabowo Korban Framing, Kini Soal 'Wajah Boyolali'
Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto - (Foto: Istimewa)

NILAHCOM, Jakarta - Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sejak akhir pekan lalu menjadi korban perisakan publik imbas pidato dirinya yang dituduh merendahkan warga Boyolali. Situasi Pemilu 2014 lalu kembali terulang hari ini, dulu soal Indonesia timur suka berkelahi, kini wajah Boyolali.

Pergerakan tanda pagar #SaveMukaBoyolali di linimasa Twitter sejak Jumat (2/11/2018) pekan lalu merangkak naik. Tanda pagar ini pun bahkan mengungguli aksi #BelaTauhid yang saat itu memang terjadi demontsrasi yang diikuti kurang lebih 10 ribu massa di seputar tugu monas, Jakarta Pusat.

Pidato Prabowo soal "Tampang Boyolali" diawali dengan prolog yang panjang lebar. Prabowo membicarakan struktur ekonomi yang timpang, soal keadilan serta kemakmuran. Ketua Umum Partai Gerindra ini menyebutkan ekonomi Indonesia tidak di tangan sendiri. Ia menyinggung soal ketimpangan pembangunan antara Jakarta dan di daerah. Menariknya, pidato Prabowo itu terjadi pada Selasa (30/10/2018) di Boyolali, Jawa Tengah.

Saat bicara kondisi Jakarta, Prabowo menyinggung sejumlah gedung yang menjulang tinggi serta hotel yang mewah. Dia menyebut misalnya Ritz Carlton, Waldorf Astoria, Saint Regis. "Tapi saya yakin kalian tidak pernah masuk hotel-hotel tersebut. Betul?" tanya Prabowo yang disambut peserta yang hadir dengan jawaban "betul".

Prabowo pun melanjutkan pidatonya, "Kalian kalau masuk, mungkin kalian diusir. Karena tampang kalian tidak tampang orang kaya, tampang-tampang kalian ya tampang Boyolali ini. Betul?" Prabowo bertanya kembali dan dijawab "betul" oleh peserta yang hadir.

Capres nomor urut 02 ini kemudian melanjutkan pidatonya yang menegaskan dirinya sebagai prajurit berjuang agar negara Indonesia tidak menjadi milik asing. Ia juga melihat masih banyak rakyat yang tidak mendapatkan keadilan dan kemakmuran.

"Saya melihat rakyat saya masih banyak yang tidak mendapat keadilan, dan tidak dapat kemakmuran dan tidak dapat kesejahteraan, bukan itu cita-cita Bung Karno, bukan itu cita-citanya Bung Hatta. Bukan itu cita-citanya Pak Dirman, bukan itu cita-citanya Ahmad Yani, bukan itu cita-cita pejuang kita," sebut Prabowo.

Heboh "Tampang Boyolali" ini juga pernah dialami Prabowo saat Pemilu 2014 lalu. Saat kampanye di Makassar Sulawesi Selatan, Prabowo menyebutkan bahwa Indonesia timur suka berkelahi dan cepat naik pitam. "Orang Indonesia timur itu suka berkelahi, makanya cocok masuk tentara atau polisi, dan cepat naik pitam," kata Prabowo kala itu.

Penggalan pernyataan Prabowo itu kemudian diolah dengan ditanggapi dengan berbagai perspektif negatif. Tuduhan Prabowo diskriminatif dan rasis atas pernyataan tersebut, kala itu mencuat. Pembingkaian media dibuat sedemikian rupa dengan bingkai pernyataan pengamat politik dan aktivis partai kontra Prabowo.

Padahal, jika disimak pidato utuh Prabowo Subianto soal Indonesia Timur, ia bicara secara antropologi masyarakat Indonesia Timur yang ia sebut suka berkelahi dan cepat naik pitam. "Orang Indonesia Timur suka berkelahi suka naik pitam tapi cepat turun. Orang Indonesia Timur suka melalangbuana, Indonesia Timur hatinya lurus kalau bicara apa adanya, kadang-kadang dianggap terlalu keras," sebut Prabowo.

Pembingkaian media dengan memotong penggalan pernyataan dan menghilangkan konteks tentu akan menjadi bias. Efeknya, tentu akan mendidihkan situasi yang sejak awal semua pasangan menginginkan pemilu dilaksanakan dengan damai. Framing soal Boyolali ini pun, nyatanya dinikmati oleh kandidat lainnya seperti pernyataan Jokowi yang mengaku kedua orang tuanya berasal dari Boyolali.

Komentar

Embed Widget
x