Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 21 November 2018 | 03:53 WIB

Perang Narasi Jokowi Versus Sandi Soal Sembako

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 31 Oktober 2018 | 18:30 WIB

Berita Terkait

Perang Narasi Jokowi Versus Sandi Soal Sembako
(Foto: twitter/Sandiaga Salahuddin Uno)

INILAHCOM, Jakarta - Persoalan kenaikan harga sembako dan pelambatan ekonomi di tanah air menjadi salah satu tema kampanye utama pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi. Dua bulan lebih, pasangan ini, khususnya Sandiaga Uno, menyuarakan persoalan krusial kenaikan harga bahan sembako. Jokowi, sebagai kandidat petahana pun bereaksi.

Dua bulan lebih Sandiaga Uno berkeliling ke sejumlah pasar di berbagai wilayah di Indonesia. Setiap kunjungan yang Sandiaga terima dari masyarakat dan pedagang tak jauh-jauh dari persoalan kenaikan harga bahan pokok, naiknya harga sewa toko hingga sepinya pembeli. Gimmick dari kunjungan tersebut sempat memunculkan soal tempe setipis ATM hingga tempe setebal handphone jaman dulu.

Temuan Sandi itu berpijak pada informasi yang ia dapat saat melakukan kunjungan. Pernyataan soal berbagai persoalan ekonomi itu disampaikan di tengah-tengah para pedagang di pasar-pasar. Seperti yang disampaikan saat usai melakukan kunjungan di Pasar Jombang, Ciputat, Tangerang Selatan pada Sabtu (20/10/2018) lalu.

Dalam kunjungannya itu, Sandiaga menemukan keluhan dari pedagang soal menurunnya pembeli di pasar. Ia menyebutkan 65% masyarakat mengeluhkan terhadap peningkatan harga-harga yang dianggap memberatkan ekonomi masyarakat. "Prabowo-Sandi akan hadir bersama masyarakat, kita akan ambil alih kendali ekonomi kita, kita perbaiki ke depan agar harga-harga terjangkau, harga stabil, kesejahteraan meningkat, itu harapan pedagang di sini," ujar Sandi kala itu.

Narasi Sandiaga ini terus disuarakan dimanapun ia berkunjung ke sejumlah titik di daerah. Isu perbaikan ekonomi dan keadilan ekonomi menjadi titik tekan pasangan Prabowo-Sandi. Konsistensi isu soal pelambatan ekonomi di Indonesia dan lemahnya daya beli masyarakat telah identik dengan pasangan ini.

Rupanya narasi yang disuarakan pasangan nomor urut 02 secara konsisten oleh Sandiaga, menganggu Jokowi sebagai kandidat petahana nomor urut 01. Kunjungan Jokowi ke Pasar Suryakencana Bogor pada Selasa (30/10/2018) malam sekitar pukul 22.00 malam, konkretnya ingin menepis narasi yang dibangun Sandiaga Uno selama dua bulan terakhir ini.

Kunjungan Jokowi ke Pasar Bogor ditemani Walikota Bogor Bima Arya Sugiarto. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menanyakan harga sejumlah komoditas langsung ke para pedagang, tak terkecuali soal tempe. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi menyebutkan harga tempe tidak naik alias stabil dan ukurannya tidak berubah. "Ya tebal," cetus Jokowi.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga mengingatkan pihak tertentu yang menarasikan soal harga di pasar mahal. Ia khawatir, narasi tersebut akan membuat masyarakat enggan ke pasar tradisional dan beralih ke pasar modern seperti supermarket dan mal. "Jangan sampai ada yang teriak di pasar harga mahal-mahal. Nanti ibu-ibu di pasar marah," ingat Jokowi.

Perang narasi Jokowi versus Sandi memang menarik untuk dikontestasikan terkait dengan program kerja di antara para kandidat. Konsistensi penggunaan isu ekonomi yang disuarakan Sandiaga Uno nyatanya berhasil memaksa Jokowi "keluar kandang" dengan mengikuti genderang Sandiaga Uno. Blusukan Jokowi ke pasar tradisional di Bogor jelas memberi pesan untuk membalikkan narasi Sandiaga soal kenaikan bahan sembako.

Klaim kenaikan sembako oleh Sandiaga di satu sisi, dan klaim penurunan harga di sisi lain oleh Jokowi telah menjadi perang narasi di antara dua kandidat. Situasi itu perlu dikonfirmasi kepada masyarakat langsung soal klaim kedua belah pihak.

INILAHCOM menanyakan langsung kepada seorang pedagang di wilayah Senayan, Jakarta tentang situasi ekonomi saat ini. Namanya Hanan, sehari-hari berprofesi sebagai pedagang makanan ringan. Ia mengaku pendapatannya selama tiga tahun terakhir ini turun 50%. "Jujur ya, pendapatan saya turun 50 persen. Namun pengeluaran saya justru naik. Ini yang saya alami," keluh Hanan, Rabu (31/10/2018).

Hanan blak-blakan soal omzet yang ia terima setiap harinya. Bila tiga tahun lalu ia dapat mengumpulkan laba hingga Rp800 ribu tiap hari, saat ini mengumpulkan laba hingga Rp300 ribu membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. "Silakan cek ke pekerja lainnya, yang saya alami ini nyata," Hanan meyakinkan.

Komentar

Embed Widget
x