Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 15 November 2018 | 18:42 WIB

Narasi Jokowi dari Politik Kebohongan ke Sontoloyo

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 25 Oktober 2018 | 17:45 WIB

Berita Terkait

Narasi Jokowi dari Politik Kebohongan ke Sontoloyo
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM Jakarta - Presiden Joko Widodo belakangan tampil dengan narasi yang berbeda dari sebelum-sebelumnya. Bila dulu Jokowi kerap membuat pernyataan bernada seloroh cenderung apa adanya, belakangan kebiasaan tersebut berubah dengan tampilan yang berbeda. Kata "kebohongan" dan "sontoloyo" meluncur dari mulut Jokowi yang selama ini dikenal santun.

Eskalasi politik menjelang Pemilu 2019 tampak meninggi. Setidaknya, hal itu tampak ditampilkan Presiden Jokowi yang juga kandidat petahana nomor urut 01. Pernyataan sebutan politisi sontoloyo keluar dari mulut Jokowi saat pidato dalam kesempatan pemberian 5.000 sertifikat di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, awal pekan ini.

Kala itu, Jokowi menyinggung soal rencana pemberian dana kelurahan yang bakal dialokasikan pemerintah sebesar Rp3 triliun untuk APBN 2019 mendatang. Jokowi tampak kesal dengan pernyataan para politisi yang mempersoalkan alokasi dana tersebut untuk kelurahan.

Padahal, kata Jokowi, dana tersebut diperuntukkan bagi pembangunan infrastruktur dan fasilitas di kelurahan seluruh Indonesia. "Hati-hati, banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo," sebut Jokowi Selasa (23/10/2018) lalu.

Sehari sebelumnya, Jokowi juga mengingatkan agar dalam Pemilu 2019 tak menggunakan politik kebohongan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pertemuan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf di Bogor. "Jangan sampai jubir maupun influencer melakukan politik kebohongan," ingat Jokowi di hadapan Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maruf.

Pernyataan Jokowi ini menimbulkan tanya di publik. Setidaknya, pernyataan bernada keras itu baru muncul dari mulut Jokowi pertama kali di publik sejak dirinya menjadi Gubernur DKI Jakarta termasuk menjadi Presiden selama empat tahun terakhir ini. Padahal, sebelumnya Jokowi dicitrakan sebagai politisi santun, apa adanya, humble dan flamboyan.

Jokowi sadar pernyataannya memancing polemik. Dalam kesempatan berikutnya, sehari setelah pernyataan sontoloyo, Jokowi mengaku pernyataan soal sontoloyo merupakan bentuk kelepasan dirinya. Ia mengaku jengkel sehingga kelepasan menyebut "politikus sontoloyo". "Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu, Karena sudah jengkel ya keluar," aku Jokowi.

Klarifikasi Jokowi tak menghentikan polemik atas pernyataan yang telah disampaikan ke publik. Sejumlah kalangan beragam merespons pernyataan Jokowi tersebut.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menyayangkan pernyataan Jokowi terkait dengan politikus sontoloyo. Terlebih diucapkan kepada mereka yang mengkritik kebijakan dana kelurahan yang rencananya akan dianggarkan pada APBN 2019 mendatang. "Itu istilah yang agak kasar," sebut Fadli.

Fadli pun mengkritik balik Jokowi dengan menggunakan diksi sontoloyo dijadikan sebagai judul puisi yang ia karang. Berikut salah satu penggalan puisi ciptaan Fadli yang diunggah di akun media sosial twitter @fadlizon. "Kau bilang ekonomi meroket, padahal nyungsep meleset, sontoloyo! Kau bilang produk beras berlimpah tapi impor tidak kau cegah sontoloyo!"

Sementara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh menilai wajar pernyataan Jokowi soal politikus sontoloyo, apalagi Jokowi mengaku kelepasan saat menyebut kata-kata tersebut. "Itu menunjukan ketika beliau menyatakan kelepasan sikap humble saja rendah hati," kata Surya saat ditemui usai peluncuran buku tentang Bambang Soesatyo "Dari Wartawan ke Senayan", Kamis (25/10/2018).

Jika membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), makna sontoloyo berarti "konyol, tidak beres, bodoh (dipakai sebagai kata makian). Penggunaan diksi "sontoloyo" oleh Jokowi tentu tidak tepat. Apalagi dimaksudkan untuk menggambarkan mereka yang mengkritik kerjanya sebagai ekskeutif, Kritik lembaga legsilatif merupakan keniscayaan dalam berdemokrasi. Jokowi tak boleh alergi apalagi memaki.

Komentar

x