Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 07:06 WIB

Mengapa Elektabiltas Prabowo-Sandi Masih Lemah?

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 8 Oktober 2018 | 19:54 WIB

Berita Terkait

Mengapa Elektabiltas Prabowo-Sandi Masih Lemah?
Prabowo-Sandi - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Hampir dua bulan pasangan Prabowo-Sandi diluncurkan ke publik dengan mendaftar sebagai peserta Pemilu Presiden 2019. Namun, performa pasangan ini ditangkap oleh semua perusahaan survei masih lemah. Elektabilitasnya cenderung turun. Apa penyebabnya?

Temuan mayoritas lembaga riset politik menempatkan pergerakan Prabowo-Sandi jalan di tempat, bahkan cenderung melorot. Situasi ini tidak linier dengan gegap gempita gerakan #2019GantiPresiden yang sempat naik daun beberapa waktu lalu sebelum pendaftaran capres-cawapres di KPU.

Seperti temuan survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang menempatkan pasangan Jokowi-Ma'ruf meriah dukungan mayoritas responden yakni sebesar 60,4%. Sementara situasi berbalik arah menimpa pasangan Prabowo-Sandi yang hanya mampu membukukan elektabilitas 29,8%. Riset lembaga milik Saiful Mujani ini dilakukan pada 7-24 September 2018 lalu.

Di riset yang sama juga terungkap kepuasan publik terhadap kinerja petahana cukup tinggi yakni sebesar 73,4%. Hanya 25,4% persen responden yang tidak puas, cukup sedikit. Dalam riset ini, margin of error di angka 3,05% dan tingkat kepercayaan sebesar 95%.

Sebelumnya, lembaga survei Indikator juga mendaulat kandidat petahana Jokowi-Ma'ruf dengan perolehan suara sebesar 57,7%. Sedangkan suara Prabowo-Sandi sebesar 32,3%. Survei ini dilakukan selama seminggu pada 1-6 September 2018.

Potret elektabilitas dua kandidat capres-cawapres ini tidak linier dengan suara yang terjadi di media sosial. Sejumlah riset yang dilakukan di dunia maya, justru sebaliknya, pasangan Prabowo-Sandi yang kerap menduduki rangking pertama, mengungguli pasangan Jokowi-Ma'ruf. Meski perlu digarisbawahi, ada perbedaan metode dan cara antara survei yang dilakukan lembaga riset dengan akun-akun yang menyelenggarakan jajak pendapat melalui fasilitas di layanan platform media sosial.

Jika melihat hasil riset politik yang muncul belakangan tampak memberi pesan penting terhadap pasangan Prabowo-Sandi tentang narasi yang menjadi sorotan pasangan ini rupanya tak banyak mendapat perhatian publik.

Narasi soal kenaikan bahan pokok, kesulitan hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, melorotnya perekonomian Indonesia, nyatanya tak mampu menarik perhatian masyarakat. Alih-alih masyarakat mengamini narasi Prabowo-Sandi, justru mayoritas publik mengapresiasi dengan menilai puas terhadap kinerja Jokowi.

Hasil riset itu juga membantah keriuhan yang terjadi di dunia maya soal kritik publik yang ditujukan pada Jokowi. Persepsi warga internet terhadap pemerintahan Jokowi di dunia maya nyatanya tak sama dengan persepsi yang muncul di responden riset.

Sejumlah hasil riset tersebut tentu bisa didebat. Namun, temuan itu dapat menjadi rujukan bagi pasangan Prabowo-Sandi untuk memperbaiki strategi kampanye. Dua bulan narasi dan kritik terhadap rezim Jokowi tak sejalan dengan persepsi yang muncul di mayoritas warga negara.

Keunggulan kubu Prabowo-Sandi di dunia maya, tidak linier dengan keunggulan di dunia nyata. Mesin politik partai pengusung pasangan Prabowo-Sandi tampak belum hangat, apalagi panas. Menggerakkan mesin partai pendukung menjadi satu-satunya jalan untuk membalikkan situasi berbalik arah.

Lebih dari itu, narasi soal kegawatan atas kondisi republik ini, nyatanya merujuk temuan riset dinilai publik biasa-biasa saja. Kondisi Indoensia dinilai normal-normal saja di bawah pemerintahan Jokowi. Setidaknya, itu yang ditemukan perusahaan riset politik.

Komentar

Embed Widget
x