Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 21 Oktober 2018 | 16:28 WIB

Buntut Kasus Ratna, Fahri-Mahfud Saling Sindir

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Sabtu, 6 Oktober 2018 | 09:00 WIB

Berita Terkait

Buntut Kasus Ratna, Fahri-Mahfud Saling Sindir
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kasus Ratna Sarumpaet ternyata masih saja menjadi perbincangan berbagai kalangan, termasuk Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah. Bahkan, Fahri menanyakan kasus Ratna yang disebut hoaks dengan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD.

Karena, Mahfud dianggap pernah menjadi korban hoaks terkait gagal menjadi bakal calon Wakil Presiden RI mendampingi calon Presiden petahana Joko Widodo (Jokowi) pada Pemilu Presiden 2019.

Padahal, Mahfud telah menyerahkan berkas persyaratan termasuk sudah menjahit baju kemeja putih yang serupa dengan kemaja yang sering dipakai Jokowi. Namun, Mahfud hanya diberikan 'harapan palsu', karena koalisi Jokowi lebih memilih Kiyai Maruf Amin sebagai calon Wakil Presiden.

Berikut cuitan antara Fahri dengan Mahfud yang merupakan Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) di media sosial twitter yang dikutip INILAHCOM pada Sabtu (6/10/2018):

#KopiRevolusi @Fahrihamzah:
Prof @mohmahfudmd apa bisa memberikan pencerahan hukum atas HOAX yang bapak alami? (berupa kabar akan jadi cawapres dan menjahit baju seragam) Apakah sama dengan HOAX BUATAN @RatnaSpaet (bahwa dia dianiaya) YA PROF?

#KopiRevolusi @Fahrihamzah:
Pengen nanya prof @mohmahfudmd apakah janji istana sampai jahit baju putih untuk cawapres itu adalah HOAX? Kalau @DennyJA_WORLD kan memang Konsultan Timses... kalau istana menyebar HOAX yang dipidana siapa? presiden, Mensekneg atau Nusron?

#KopiRevolusi @Fahrihamzah:
Yang dialami capres nomor 2 itu DIBOHONGI oleh @RatnaSpaet (sudah ngaku dan minta maaf) maka saya tanya yang dialami oleh prof @mohmahfudmd itu (sudah ngaku dan busana) DIBOHONGI oleh siapa? Itu aja kan sederhana. Ada 2 BOHONG bikin ramai publik. 1 tersangka 1 lagi?

#KopiRevolusi @Fahrihamzah:
Seperti pak @prabowo maka Prof @mohmahfudmd juga ngaku dibohongi (apa ada istilah lain?). Tapi dalam kasus prabowo pelaku telah bersaksi dan mengaku juga minta maaf. Tapi dalam kasus pak Mahfud kan tidak ada yang ngaku. Jangan2 @MRomahurmuziy yang benar?

Mahfud MD @mohmahfudmd
Tak usah dilayani, Hazri. Dulu @Fahrihamzah juga bilang tak ada korupsi e-KTP karena dirinya sudah keliling di ruangan2 DPR tak ada uang korupsi itu. Nyatanya, Pelakunya mengaku dan siap jadi justice collaborator. Sekarang dia mencampuraduk antara "berita bohong" dan "berita nyata".

Mahfud MD @mohmahfudmd:
Di dalam hukum perdata ada asas konsensual antar orang/pihak sehingga masalah bisa diakhiri dengan kesepakatan dan maaf-maafan. Tapi di dalam hukum pidana pelanggar hukum berhadapan dengan negara/ masyarakat sehingga tak bisa selesai dengan minta maaf. Yang bersangkutan harus tetap diadili, kecuali dalam kasus delik aduan.

#KopiRevolusi @Fahrihamzah:
1. Kirain mau dilayani. 2. Kasus EKTP saya siap ungkap kebohongan dan pengalihan isunya dari permainan tender ke perencanaan. 3. Kalau "berita benar" berati Gak ada yang salah dari kasus "panggilan sejarah" dan "besok kami daftar ke KPU" serta "Dah ukur baju"?dll itu? Ya udah.

Untuk diketahui, Ratna Sarumpaet awalnya mengaku dikeroyok oleh orang yang tak dikenal di Bandung, Jawa Barat pada 21 September 2018. Akhirnya, kubu calon Presiden Prabowo Subianto dan calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno mengutuk keras pelakunya.

Bahkan, Prabowo sampai menggelar konferensi pers mengutuk aksi kekerasan terhadap Ratna dan meminta kepolisian cepat mengusut tuntas siapa pelakunya. Namun, ternyata Ratna mengaku berbohong tidak dianiaya tapi habis menjalani operasi sehingga mengalami memar.

Dari situ, Prabowo pun meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena grasak-grusuk menyikapi apa yang dialami Ratna. Akhirnya, Prabowo meminta kepada Ratna untuk mundur dari Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.

Kini, Ratna telah ditetapkan sebagai tersangka UU ITE dan ditahan oleh penyidik Polda Metro Jaya. Ratna ditangkap di Bandara Soekarno-Hatta karena ingin pergi ke Chile pada Kamis (4/10/2018) malam.[ris]

Komentar

Embed Widget
x