Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 15:28 WIB

Gerpol Prabowo-Sandi Usai Turbulensi Sarumpaet

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 5 Oktober 2018 | 10:29 WIB

Berita Terkait

Gerpol Prabowo-Sandi Usai Turbulensi Sarumpaet
Calon Presiden dan Wakil Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (kanan) - (Foto: inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Pengakuan Ratna Sarumpaet ihwal rekaan cerita penganiayaan dirinya telah menimbulkan turbulensi politik bagi pasangan Prabowo-Sandi. Perisakan massal menimpa kubu koalisi oposisi ini. Namun, tak butuh waktu lama untuk memutar situasi negatif menjadi netral kembali.

Pasca-pengakuan Ratna Sarumpaet soal kebohongan cerita penganiayaan dan keterangan polisi soal peristiwa sebenarnya yang menimpa aktivis sekaligus budayawan itu, posisi Prabowo-Sandi benar-benar tersudut. Pemicunya pernyataan publik sejumlah tokoh politik di kubu ini termasuk Prabowo dianggap turut serta menyebarkan informasi hoaks yang bersumber dari Ratna Sarumpaet. Prabowo sendiri tak lama pengakuan Ratna Sarumpaet, secara terbuka telah menyampaikan maaf ihwal informasi hoaks Ratna. Prabowo juga mencopot posisi Ratna dari Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi.

Tak tanggung-tanggung, narasi yang muncul ke publik cukup ekstrem; mendesak Prabowo mundur dari pencapresan. Selain pula, pihak yang memiliki afiliasi politik berbeda dengan kubu ini melaporkan elit oposisi ke Mabes Polri. Tuduhannya, penyebaran informasi palsu ke publik. Hal yang sama juga menimpa politisi Senayan yang dilaporkan ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR seperti Fadli Zon, Fahri Hamzah hingga Rachel Maryam. Tuduhannya soal kicauan mereka yang dituding menyebarkan informasi hoaks.

Selain itu, sejumlah tokoh yang memiliki afiliasi politik dengan petahana juga menambah keriuhan persoalan Ratna ini. Seperti Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengusulkan agar tanggal 3 Oktober dijadikan sebagai Hari Anti Hoax Nasional.

"Saya mengusulkan tanggal 3 Oktober karena pengakuan pembuat hoax terbaiknya di hari itu," ungkap Ridwan Kamil, Kamis (4/10/2018). Narasi ini tentu makin memojokkan posisi koalisi Prabowo-Sandi, kendati usulan tersebut tidak secara langsung menimpa Prabowo-Sandi.

Ekspresi lainnya dengan narasi menyudutkan kelompok oposisi juga ramai berseliweran di media sosial. Seperti tanda pagar #KoalisiPastik yang merujuk pada operasi plastik yang dilakukan Ratna Sarumpaet. Tagar ini juga disandingkan dengan tagar #KoalisiKardus yang merujuk polemik kicauan Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief saat penentuan cawapres Prabowo pada awal Agustus lalu yang menyebut Prabowo merupakan jenderal kardus.

Situasi pelik yang menimpa Prabowo-Sandi ini berlangsung sejak Rabu (3/10/2018). Namun, mulai Kamis (4/10/2018), narasi tandingan mulai dikontestasikan dengan narasi sebelumnya yang menempatkan pasangan Prabowo-Sandi berada di titik nadir, setidaknya sejak penetapan paslon capres-cawapres pada 20 September bulan lalu.

Sejumlah narasi yang muncul seperti sejumlah janji presiden Jokowi yang disampaikan saat Pemilu 2014 lalu disandingkan dengan kenyataan saat ini. Seperti soal janji Jokowi tentang mobil Esemka kembali diputar. Video janji Jokowi pada September 2015 perekonomian akan meroket juga kembali diputar ulang. Uniknya, meme soal Mahfud MD yang sempat bakal menjadi cawapres Jokowi tak luput kembali muncul.

Menariknya, pemutaran kembali janji Jokowi diselipkan tagar #BapakHoaxNasional. Tagar ini pun menduduki topik yang paling banyak dibicarakan warga internet (citizen internet) dengan duduk dalam jajaran trending topic di Twitter pada Kamis (4/10/2018).

Tidak hanya itu, warga internet yang berafiliasi pada pasangan Prabowo-Sandi juga menggelar sejumlah polling di Twitter. Pertanyaannya, siapa capres pilihan Anda setelah drama Ratna mencuat? Poling hingga kini masih berlangsung. Dari data sementara sejumlah akun yang menggelar poling, posisi Prabowo-Sandi masih unggul dibanding Jokowi-Ma'ruf.

Keriuhan Pilpres 2019 ini cukup tercermin melalui lalu lintas percakapan di lini masa. Kasus Ratna mengonfirmasi tentang pertarungan di dunia maya. Meski, dari kasus ini pula, publik disuguhkan kontestasi narasi sekaligus tagar. Bila semula kubu Prabowo-Sanei terpojok "mati gaya", namun tak butuh waktu lama, narasi janji Jokowi, setidaknya mampu menormalkan keadaan. Pesan pentingnya, soal janji dan pernyataan tak sesuai fakta bukanlah hanya monopoli Ratna saja.

Komentar

Embed Widget
x