Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 15:31 WIB

Absurditas Ratna Sarumpaet

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 3 Oktober 2018 | 19:20 WIB

Berita Terkait

Absurditas Ratna Sarumpaet
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Ratna Sarumpaet, aktivis gaek membuat kehebohan jagad politik di tanah air. Pengakuan palsu soal penganiayaan telah membuat tensi politik menghangat. Padahal, Ratna bukanlah aktivis kemarin sore. Ia telah menjadi aktivis sejak era Orde Baru. Namun kini, Ratna menjadi sosok yang absurd dan naif.

Nama Ratna melambung di pucuk aktivis di era Orde Baru saat pementasannya mendapat pencekalan dari rezim Orde Baru kala itu. Pentas monolog "Marsinah Menggugat" melambungkan nama aktivis senior yang pada 16 Juli lalu itu genap berusia 70 tahun.

Ratna yang pernah bergabung dengan WS Rendra ini juga menunjukkan kelasnya sebagai sosok budayawan yang diakui karyanya. Pada 2009 lalu, ia membuat film debut perdananya dengan judul "Jamila dan Sang Presiden". Karya Ratna ini pernah diajukan dalam ajang Academy Awards ke - 82 untuk kategori Film Berbahasa Asing Terbaik, namun kalah.

Ratna memiliki perhatian pada isu demokrasi dan Hak Asasi Manusia, perdagangan anak dan pekerja seks serta isu pluralisme dan toleransi. Untuk poin terakhir, Ratna menulis novel fiksi dengan judul "Maluku Kobaran Cintaku" dengan mengambil latar kerusuhan antaragama yang terjadi di Maluku saat awal reformasi 1999 dulu.

Dunia aktivisme telah melekat pada perempuan berhijab ini. Pada akhir 2016, Ratna pernah berurusan dengan aparat kepolisian dengan sangkaan terlibat dalam penggulingan terhadap Presiden Jokowi. Namun tak sampai 1x24 jam, Ratna dilepas.

Di bidang aktivisme dan budaya, sejumlah pengharagaan diterima Ratna. Sebagaimana dilansir Wikipedia, seperti penghargaan "Female Human Rights Special Award" dari The Asia Foundation for Human Rights di Tokyo pada 1998. Ia juga menerima "Tsunami Award" pada 2005 di Aceh. Pada 2009, Ratna juga meraih "NETPAC Award", Asiatica Film Mediale, Roma untuk film "Jamila dan Sang Presiden" pada 2009.

Seabrek jejak rekam dan pengalaman Ratna di dunia aktivisme dan kebudayaan seolah runtuh dengan pengakuan kebohongan Ratna soal informasi penganiayaan dirinya yang terjadi di Bandung yang ternyata hoaks.

Ratna tampak naif dan absurd soal drama operasi plastik yang disebut sebagai penganiayaan. Moralitas Ratna hancur baik sebagai aktivis maupun seorang budayawan. Perlawanan terhadap orde baru dan menjunjung nilai kemanusiaan yang ia lakukan selama ini tak membekas dengan membuat informasi palsu.

Atas nama menjaga kewarasan publik, baiknya Ratna menarik diri dari hiruk pikuk politik dan aktivitas publik lainnya. Setidaknya langkah tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban moral terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini menjadi patokan dan pegangannya.

Komentar

Embed Widget
x