Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 13 November 2018 | 08:41 WIB

3 Perkara Lippo Group, Eddy Sindoro Suap Panitera

Oleh : Ivan Sethyadi | Selasa, 2 Oktober 2018 | 09:37 WIB

Berita Terkait

3 Perkara Lippo Group, Eddy Sindoro Suap Panitera
Eddy Sindoro

INILAHCOM, Jakarta - Nama Eddy Sindoro kembali menjadi pemberitaan. Bekas bos Lippo Group ini kembali diungkit kasusnya setelah KPK melanjutkan pencarian terhadap dirinya sejak diberitakan kabur akhir 2016.

Penetapan tersangka Eddy Sindoro berawal dari Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Edy Nasution yang didakwa menerima suap secara bertahap sebesar Rp 2,3 miliar. Suap tersebut diduga diberikan agar Edy membantu mengurus perkara hukum yang melibatkan perusahaan di bawah Lippo Group.

Pemberian uang kepada Edy dilakukan secara bertahap, yakni Rp 1,5 miliar dalam bentuk dollar Singapura, dan uang Rp 100 juta dari pegawai Lippo Group Doddy Aryanto Supeno, atas persetujuan dari Presiden Komisaris Lippo Group, Eddy Sindoro.

Kedua, pemberian uang 50.000 dollar AS kepada Edy Nasution, atas arahan Eddy Sindoro. Kemudian, pemberian ketiga, yakni uang sebesar Rp 50 juta dari Doddy Aryanto Supeno, atas arahan Wresti Kristian Hesti, yang merupakan pegawai bagian legal pada Lippo Group.

Tiga perkara Lippo Group yang diurus oleh Edy adalah perkara eksekusi lahan terhadap PT Jakarta Baru Cosmopolitan. Kemudian, penundaan "aanmaning" perkara niaga PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP) melawan PT Kwang Yang Motor (PT Kymco).

KPK telah menyita uang sejumlah Rp1,7 miliar dan sejumlah dokumen dari rumah pribadi Nurhadi. Nurhadi mengaku mengenal dekat Eddy Sindoro sejak masih duduk di bangku SMA. Nurhadi juga sudah beberapa kali mondar-mandir ke Gedung KPK untuk menjalani pemeriksaan.

Diujung kasus ini, hakim memutusukan bahwa praktik suap pengurusan perkara terbukti. Edy divonis 5,5 tahun penjara. Sementara Pegawai PT Artha Pratama Anugrah, Doddy Aryanto Supeno divonis 4 tahun penjara.

Namun Eddy berhasil 'lolos', sehari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Eddy kabur ke luar negeri hingga kini tak diketahui rimbanya.

Eddy sempat dideportasi oleh otoritas Malaysia untuk kembali ke Indonesia. Namun berkat bantuan Lucas, Eddy tak sampai ke tangan penyidik, dia justru kembali kabur ke luar negeri.

Atas perannya tersebut, KPK menetapkan Lucas sebagai tersangka dengan tuduhan menghalangi penyidikan KPK.

Kini, lewat penetapan tersangka Lucas, KPK kembali semangat mengejar Eddy dari pelariannya. [rok]

Komentar

Embed Widget
x