Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 18 Desember 2018 | 23:22 WIB

Prospek Prabowo-Sandi Taklukkan Kantung NU

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 13 September 2018 | 20:53 WIB

Berita Terkait

Prospek Prabowo-Sandi Taklukkan Kantung NU
Pasangan Prabowo-Sandi - (Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAHCOM, Jakarta - Pasangan Prabowo-Sandi dalam beberapa waktu terakhir ini intens mendekati komunitas Nahdlatul Ulama (NU). Langkah yang tak mudah bagi pasangan ini lantaran di kubu Jokowi, keberadaan KH Ma'ruf Amin yang notabene menjadi Rais Aam PBNU menjadi simbol ketokohan kiai NU. Meski tak mudah, peluang Prabowo-Sandi masih terbuka lebar.

Prabowo-Sandi secara estafet mengunjungi keluarga KH Abdurrahman Wahid di Ciganjur. Pertemuan di awali oleh Sandiaga Uno pada awal pekan ini, kemudian disusul Prabowo Subianto pada Kamis (13/9/2018). Tak sampai sepekan, pasangan capres-cawapres ini berkunjung ke keluarga Gus Dur, simbol tokoh NU yang hingga saat ini masih cukup kuat di akar rumput warga NU.

Di samping mengunjungi keluarga Gus Dur, pasangan ini juga sebelumnya berkunjung ke kantor PBNU, sesaaat setelah keduanya deklarasi menjadi pasangan capres-cawapres. Bahkan dalam kunjungan tersebut, Prabowo mendapat tawaran mendapatkan kartau tanda anggota (KTA) NU.

Pasangan ini tampak begitu intens berkunjung dan menggelar pertemuan dengan sejumlah stakeholder NU. Seperti Prabowo Subianto sejak pekan lalu awal pekan ini berkunjung ke Jatim, wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis warga NU.

Prabowo berkunjung ke sejumlah pesantren besar di Jatim, termasuk berkunjung ke sejumlah makam para tokoh-tokoh kharismatik NU seperti makam KH Abdurrahman Wahid, makam KH Wahab Hasbullah, makam KH Kholil Bangkalan, Madura, hingga berkunjung ke makam KH Syamsul Arifin di Situbondo.

Serangkaian silaturahmi politik Prabowo-Sandi mendekati komunitas NU memiliki makna penting selain sekadar urusan elektoral dalam Pemilu 2019 mendatang. Pendekatan ke NU oleh pasangan ini tak lebih sebagai upaya klarifikasi atas tudingan yang selama ini menyasar ke kubu ini soal tudingan dorongan pergantian sistem bernegara Pancasila menjadi khilafah serta tudingan mendorong persemaian ideologi wahabi di Indonesia.

Prabowo merespons tudingan tersebut dengan menyebut bila tudingan tersebut merupakan propaganda picik yang sengaja dihembuskan oleh pihak yang tidak bertanggungjawab. Menurut Prabowo, tak mungkin dirinya memiliki pikiran untuk mengubah ideologi Pancasila menjadi khilafah karena latar belakang dirinya sebagai prajurit TNI.

"Masalah khilafah itu adalah propaganda yang sebetulnya picik tapi berbahaya karena rakyat bisa terpengaruh," sebut Prabowo di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (13/9/2018).

Klarifikasi Prabowo Subianto ini menjadi cukup penting untuk memastikan pasangan Prabowo-Sandi steril dari ideologi di luar Pancasila. Propaganda negatif ini tentu akan memberi dampak elektoral bagi pasangan ini. Pendekatan Prabowo-Sandi ke komunitas NU menjadi cukup strategis sebagai simbol Islam moderat di Indonesia.

Selain melakukan silaturahmi politik ini, pasangan Prabowo-Sandi ini semestinya juga menggandeng figur NU yang memiliki basis akar rumput yang kuat. Keterlibatan tokoh NU dalam Tim Kampanye Nasional juga akan memberi dampak konkret elektoral bagi pasangan ini.

Peluang Prabowo-Sandi untuk mendapat dukungan dari nahdliyin masih terbuka lebar. Program-program kerakyatan yang menyentuh persoalan rakyat khususnya bagi warga NU yang banyak di pinggiran seperti petani, nelayan, buruh menjadi langkah yang taktis ketimbang sekadar simbol menggunakan baju NU. Realitas di lapangan warga NU tidak sedikit menjadi kelompok lemah di akar rumput semestinya dapat ditangkap dengan baik oleh pasangan ini.

Dalam kenyataannya, kandidat berlatar belakang NU, tak menjamin secara linier dengan keterpilihan. Hal ini dapat belajar dari pilpres 2004 yang menghadirkan dua tokoh NU yang sama-sama maju dalam Pilpres 2004 lalu seperti KH Hasyim Muzadi dan KH Salahudin Wahid. Nyatanya, kedua tokoh tersebut kalah dengan pasangan SBY-JK.

Belajar dari Pilpres 2004, peluang Prabowo-Sandi mendapat ceruk suara nahdliyin masih terbuka lebar. Inovasi progra kerja yang menyentuh akar rumput khususnya warga NU akan menjadi pintu untuk meraih dukungan massa NU.

Komentar

x