Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 September 2018 | 23:00 WIB

Farhat Abbas, Percik Muka di Dulang Koalisi Jokowi

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 12 September 2018 | 19:52 WIB

Berita Terkait

Farhat Abbas, Percik Muka di Dulang Koalisi Jokowi
(Foto: istimewa)

INILAH.COM, Jakarta - Koalisi Indonesia Kerja (KIK) sejak awal memposisikan diri sebagai koalisi yang tidak menjadikan agama sebagai komoditas. Namun Farhat Abbas, politisi PKB justru membuka kotak pandora realitas praktik politik.

Politisi PKB Farhat Abbas membuat geger jagad dunia maya. Pemicunya, unggahan di akun instagram @frahtaabbasv226 yang menulis "Pak Jokowi adalah Presiden yang menuntun Indonesia masuk surga". Di profil Instagram anak buah Muhaimin Iskandar ini juga ditulis "Pilih Jokowi?! Masuk Surgawi! Masuk Neraka!"

Sontak saja, unggahan Farhat memicu polemik di warga internet (internet citizen). Sekjen PKB Abdul Kadir Karding mengaku telah menegur calegnya tersebut atas cuitan yang diunggah di media soaialnya. Menurut Karding, cuitan itu bakal merugikan pasangan Jokowi-Maruf, PKB serta pribadi Farhat yang maju dalam Pileg 2019 mendatang "Sudah saya tegur," ungkap Karding di Jakarta, Rabu (12/9/2018).

Masih melalui akun Instagramnya, Farhat mengunggah bila dirinya telah ditegur Sekjen PKB Abdul Kadir Karding. Dalam unggahannya itu, Farhat menyebut jika dirinya diminta agar tidak menggunakan kalimat yang menghina kandidat lain. "Saya ditegur Sekjen PKB Pak Abdul Kadir Karding yth, agar tidak menggunakan kalimat-kalimat yang membully/menghina calon presiden. Saya minta maaf dan atas pantun yang membuat sebagan orang gagal paham," ungkap politisi PKB ini.

Unggahan Farhat ini memang bertolak belakang dari jargon yang selama ini disuarakan dari koalisi Jokowi-Maruf ini. Selama ini, koalisi ini mengkampanyekan yang tidak mengatasnamakan agama, pro keberagaman dan anti diskriminatif.

Menjelang pelaksanaan kampanye Pemilu 2019 ini, pembingkaian citra kepada citra diri kandidat yang diusung maupun citra diri lawan kerap dilakukan begitu massif. Sayangnya, citra diri itu kerap tak linier dengan praktik di lapangan. Pembingkaian yang massif ujungnya sekadar soal urusan kampanye politik yang bertujuan untuk menarik massa sebanyak-banyaknya di sisi lain pembingkaian juga ditujukan untuk menggerus basis lawan.

Kampanye damai serta kampanye sejuk mestinya tak hanya jargon. Kerapnya kampanye tak lebih sebagai upaya menaikkan mutu diri di saat bersamaan merendahkan mutu lawannya.

Materi unggahan Farhat Abbas sebagai politisi yang berafiliasi pada pasangan Jokowi-Maruf justru menampilkan sebagaimana peribahasa "memercik air muka di dulang" koalisi Jokowi. Citra diri pasangan Jokowi-Maruf nyatanya tak sepenuhnya secara paripurna dihayati oleh para pendukungnya.

Komentar

x