Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 25 September 2018 | 22:59 WIB

Politik Dua Kaki Demokrat Taruhan Kredibilitas SBY

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 10 September 2018 | 17:16 WIB

Berita Terkait

Politik Dua Kaki Demokrat Taruhan Kredibilitas SBY
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Posisi Partai Demokrat dalam Pemilu 2019 secara formal berada dalam barisan koalisi Prabowo-Sandi. Namun, belakangan sejumlah kader Partai Demokrat justru terlibat dalam tim pemenangan pasangan Jokowi-Ma'ruf. Tudingan politik dua kaki sulit ditepis dari internal Partai Demokrat. Kredibilitas SBY menjadi pertaruhan.

Drama koalisi Partai Demokrat dalam Pemilu 2019 belum berakhir. Kendati secara legal-formal, Partai Demokrat menjadi satu dari empat partai politik pengusung pasangan Prabowo-Sandi dalam Pilpres 2019 mendatang, namun dalam kenyataannya, Partai Demokrat tampak permisif terhadap kader yang mbalelo dari keputusan partai.

Sejumlah figur penting di Partai Demokrat terang-terangan terlibat dan mendukung pemenangan Jokowi-Ma'ruf Amin. Sebut saja Tuan Guru Bajang alias M Zainul Majid yang saat ini menjabat Gubernur NTB, Ketua Majelis Pertimbangan Daerah (MPD) Partai Demokrat Jawa Barat Deddy Mizwar yang sebelumnya dicalonkan menjadi calon gubernur Jawa Barat, serta Ketua DPD Partai Demokrat Papua Lukas Enembe yang juga Gubernur Papua.

Di sisi lain, Partai Demokrat juga memberi lampu hijau kepada sejumlah daerah untuk mendukung Jokowi. Partai Demokrat beralasan, di daerah-daerah tersebut merupakan kantung pemilih Jokowi yang tercermin hasil rapat koordinasi daerah (Rakorda) Partai Demokrat yang dominan mendukung Jokowi.

"Ada empat provinsi yang memang signifikan (mendukung Jokowi), (perbandingannya) tinggi sekali (yakni) 70%:30, 65%:35% yang menghendaki mendukung Jokowi," ungkap Ketua DPP Bidang Advokasi dan Bantuan Hukum DPP Partai Demokrat Ferdinan Hutahaean akhir pekan kemarin.

Sikap disepensasi Partai Demokrat kepada kadernya yang berada di kantung pemilih Jokowi dimaksudkan agar dalam pemilu legislatif 2019 mendatang, para caleg di daerah yang merupakan basis suara Jokowi dapat unggul dalam Pileg 2019 mendatang. "Nanti kami akan cari formula khusus supaya Partai Demokrat juga hidup, kami juga bisa memenangkan Pak Prabowo," sebut Ferdinan.

Sikap Partai Demokrat ini tentu menjadi sorotan publik. Kesan ambigu dalam pilihan politik serta tampak bermain dua kaki sulit ditepis dari sikap Partai Dmeokrat yang permisif mempersilakan kadernya untuk tidak mendukung capres pilihan DPP Partai Demokrat yakni Prabowo-Sandi.

Alasan Partai Demokrat yang membolehkan kadernya memilih capres-cawapres di luar pilihan DPP Partai Demokrat memang dapat dimaklumi. Setidaknya, efek pilihan capres-cawapres akan memberi dampak pengaruh dalam pemilihan legislatif yang dilakukan secara bersamaan dalam Pemilu 2019 mendatang.

Coat tail effect atau efek ekor jas yang berarti latar belakang capres-cawapres bakal memberi dampak bagi para caleg dalam Pemilu 2019 mendatang. Nah, dalam konteks Partai Demokrat inilah yang menjadi pertimbangan kebijakan dispensasi bagi daerah-daerah yang memang menjadi kantung pemilih Jokowi. Sikap permisif DPP Partai Demokrat kepada kadernya di kantung Jokowi agar Pileg tak merepotkan kader yang maju menjadi caleg.

Selain alasan teknis Pemilu 2019 tersebut, alasan lain mengapa Partai Demokrat seolah menempatkan sejumlah kadernya untuk membantu pemenangan Jokowi-Ma'ruf, tak lain lantaran motif bermain dua kaki dalam Pilpres 2019 mendatang. Setidaknya, tidak ada sikap pemberian sanksi kepada kader yang terang-terangan membangkang keputusan DPP Partai Demokrat.

Apapun alasan yang muncul dari sikap permisif Partai Demokrat ini sejatinya akan memperburuk citra Partai Demokrat dan SBY sebagai ikon dan figur sentral partai ini. Sikap ini jelas menggerus kredibilitas partai dan figur SBY sebagai sosok utama di partai ini. Pilihan politik partai justru tak wibawa di hadapan kader partai.

Komentar

x