Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 00:05 WIB

Yusril Nilai Tagar Ganti Presiden Tak Mendidik

Oleh : Agus Irawan | Minggu, 9 September 2018 | 19:01 WIB

Berita Terkait

Yusril Nilai Tagar Ganti Presiden Tak Mendidik
Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Umum Partai Bulan Bintang (PBB) Yusril Ihza Mahendra menyarankan agar tagar-tagar yang sengaja diciptakan untuk kampanye pemilu 2019 hendaknya juga mengandung unsur pendidikan politik bagi masyarakat.

Menurutnya, endidikan politik berkaitan erat dengan peningkatan kualitas demokrasi suatu negara. Ia pun memberikan pandangannya soal tagar #2019GantiPresiden yang dianggap tak jelas.

"Dalam tagar #Jokowi2Periode jelas disebutkan nama Jokowi sebagai capres yang didukung, tetapi dalam tagar #2019GantiPresiden tidak jelas presiden nya siapa yang mau diganti. Kemudian juga tidak jelas siapa penggantinya," kata Yusril, Jakarta, Minggu (9/9/2018).

Ia menambahkan, selama ini sudah jelas bahwa dalam pilpres nanti hanya ada dua pasang calon presiden. Menurutnya, alangkah lebih baik jika tagar yang diusung menyebut nama calon masing-masing.

"Begini suda jelas nama yang mana yang mau di pilih, dan tidak akan keluar dari dua pasang calon itu. Jadi, pendapat saya rasanya suda kurang pas tagar 2019 ganti presiden itu," ujarnya.

Lebih lanjut, mantan Menkumham ini menyebut tagar #2019ganti presiden kurang mendidik dan terlalu propokatif. Ke depan, ia mengharapkan agar tagar ganti presiden dirubah dengan menyebut nama pilihan calon presidennya secara tegas dan jelas.

"Ini sangat penting agar tagar tersebut tetap berisi pendidikan politik kepada rakyat, bukan propaganda politik. Kalau sudah prpaganda seperti itu, alam bawah sadar publik, maka publik tidak akan mikir lagi siapa pengganti Presiden, pokoknya ganti. Tentu ini tidak memberikan pendidikan politik apa-apa kepada rakyat," tuturnya.

Yusril menegaskan, pilpres merupakan wahana pendidikan politik bagi masyarakat. Untuk itu diharapkan agar muncul kesadaran berbagai pihak tak menjadikan hal-hal yang bersifat penggiringan opini dan propaganda sebagai bahan kampanye.

"Kita ingin rakyat kita menjadi dewasa san rasional dalam menentukan pilihan politik, bukan penggiringan opini melalui propaganda. Bangsa yang besar harus mampu membangun dirinya dengan kesadaran politik yang tinggi. Kesadaran pilitik itu harus dibangun dengan rasionalitas," ungkapnya.

Komentar

Embed Widget
x