Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Oktober 2018 | 09:22 WIB

Jokowi-Mahfud Vs Prabowo-Sandi

Petahana Menang Sebelum Perang?

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 9 Agustus 2018 | 16:59 WIB

Berita Terkait

Petahana Menang Sebelum Perang?
Calon Presiden Petahana Joko Widodo dan Calon Wakil Presiden Mahfud MD - (Foto: Riset)

INILAHCOM, Jakarta - Kandidat pasangan Capres-Cawapres hampir mencapai kata sepakat di masing-masing koalisi. Setidaknya terdapat dua pasang calon yang bakal muncul dalam Pilpres 2019 mendatang yakni Jokowi-Mahfud versus Prabowo-Sandi. Petahana menang sebelum perang?

Drama penentuan Capres-Cawapres di masing-masing kubu koalisi cukup dinamis. Menjelang satu hari penutupan masa pendaftaran Capres-Cawapres, kepastian siapa menggandeng siapa di masing-masing koalisi kian terang. Seperti di kubu koalisi petahana, sosok Mahfud MD jika tidak terdapat 'gempa politik' dipastikan bakal menjadi pendamping Jokowi.

Begitu juga di koalisi Prabowo. Figur Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno juga dipastikan bakal menjadi pendamping Prabowo Subianto sebagai Cawapres dalam Pilpres 2019 mendatang, jika tidak terjadi 'gempa politik'. Baik Mahfud MD maupun Sandiaga Uno, masing-masing telah mengurus syarat administrasi pencapresan terkait bebas pailit di Pengadilan Negeri Sleman untuk Mahfud MD dan PN Jaksel untuk Sandiaga Uno.

Simulasi dua pasang Capres-Cawapres yang besar kemungkinan bakal berhadapan dalam Pemilu 2019 mendatang ini di atas kertas lebih menguntungkan di kubu kandidat petahana. Kandidat petahana yang memiliki sumberdaya politik berlimpah dengan dukungan sembilan partai politik koalisi, akan memudahkan menggerakkan mesin pemenangan. Belum lagi jejaring relawan Jokowi yang telah eksis sejak Pemilu 2014 lalu.

Faktor Mahfud MD juga menambah kekuatan di kubu petahana. Latar belakang Mahfud yang dikenal sebagai pakar di bidang hukum serta citra sebagai sosok yang antikorupsi, serta latar belakangan dekat dengan kalangan NU juga di atas kertas diyakini dapat menambah ceruk suara koalisi petahana.

Adapun di koalisi Prabowo-Sandi ini di atas kertas diprediksi sulit menandingi kandidat dari petahana. Formasi pasangan Capres-Cawapres yang berasal dari satu partai yakni Partai Gerindra tampak keluar dari pakem praktik politik di Indonesia. Prabowo dan Sandi merupakan Ketua Umum dan Wakil Ketua Umum di DPP Partai Gerindra.

Di samping itu, di koalisi ini juga muncul insiden "jenderal kardus" dan "jenderal baper" termasuk tudingan pemberian mahar kursi cawapres ke PAN dan PKS masing-masing sebesar Rp500 miliar, sebagaimana diinfokan Wakil Sekjen Partai Demokrat Andi Arief. Artinya, di koalisi ini soliditas partai koalisi tidak solid alias rapuh.

Riset Alvara Research pada akhir Juli lalu juga membuat simulasi soal Jokowi head to head dengan Prabowo. Elektabilitas Jokowi jika berhadapan dengan Prabowo sebesar 52,6% sedangkan Prabowo Subianto sebesar 35,4%. Adapun simulasi sejumlah figur Cawapres terungkap elektabilitas Mahfud MD sebesar 18,5%.

Itung-itungan tersebut merupakan perhitungan di atas kertas. Dinamika politik masih sangat cair sebelum pendaftaran di KPU. Kejutan politik bisa saja muncul khususnya di kubu koalisi Prabowo yang hingga saat ini masih lentur dan belum terkonsolidasi.

Komentar

Embed Widget
x