Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 11:53 WIB

Membaca Peluang 'Kuda Hitam' di Pilpres 2019

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 6 Agustus 2018 | 17:36 WIB

Berita Terkait

Membaca Peluang 'Kuda Hitam' di Pilpres 2019
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Masa pendaftaran capres/cawapres 2019 akan berakhir pada 10 Agustus 2018 mendatang. Hingga saat ini baru dua nama capres yang muncul, yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Akankah di detik terakhir muncul figur baru capres 'kuda hitam'?

Baru dua nama yang telah beredar kemungkinan bakal mendaftar sebagai capres yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Meski, kedua figur tersebut hingga kini belum diketahui siapa yang bakal menjadi pendampingnya dalam kontestasi Pilpres mendatang.

Di tengah masa pencarian figur Cawapres, gagasan menghadirkan kandidat alternatif mencuat ke permukaan. Ini tidak terlepas dari kondisi politik di masing-masing internal koalisi baik di kubu Jokowi maupun di kubu Prabowo. Imbas komunikasi yang tidak linier serta buntunya negosiasi, secara politik terbuka memunculkan poros baru dalam Pilpres mendatang.

Di koalisi Jokowi yang hingga saat ini telah terkumpul sembilan partai politik terdiri dari enam parpol lama dan tiga parpol baru, hingga saat ini belum menemukan siapa pendamping Jokowi. Sepuluh nama kandidat yang semula digadang-gadang Jokowi dan diperas menjadi lima nama, hingga kini juga tak jelas juntrungannya.

Dari sembilan partai koalisi yang tergabung di koalisi Jokowi ini, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) satu-satunya partai politik yang paling demonstratif menawarkan ketua umumnya, yakni Abdul Muhaimin Iskandar menjadi cawapres Jokowi. Bahkan, posko pemenangan Jokowi-Cak Imin atau dikenal JOIN tersebar seantero wilayah di Indonesia.

Berbagai manuver dilakukan kelompok ini untuk memuluskan hajatnya mendapuk ketua umumnya untuk menjadi Cawapres Jokowi. Seperti akhir pekan lalu, para kiai PKB menemui pimpinan NU untuk memastikan dukungan ke Muhaimin Iskandar agar menjadi Cawapres yang dipilih Jokowi. Sebelumnya, ratusan santri dari Ciamis melakukan long march ke Jakarta untuk mendukung Muhaimin Iskandar sebagai Cawapres Jokowi.

Sinyal Muhaimin tidak dipilih Jokowi sebagai Cawapres, tampak ditangkap oleh elit PKB. Meski tak secara tegas mengisyaratkan bakal membentuk poros baru, peluang PKB membentuk poros baru dalam Pilpres 2019 mendatang cukup terbuka. Setidaknya, perolehan suara PKB dalam Pemilu 2014 lalu sebesar 9,04% dapat menjadi modal dasar dalam merajut poros baru. Hal yang tidak mustahil terjadi.

Di sisi lain, di koalisi Prabowo Subianto juga tak urung mengalami situasi pelik. Hangatnya komunikasi Prabowo-SBY dalam momentum menjelang pendaftaran Capres/Cawapres beberapa waktu lalu dibaca sebagai sinyal kuat menduetkan Prabowo-AHY dalam Pilpres 2019 mendatang. Koalisi Gerindra (11,81%) dan Partai Demokrat (10,19%) sudah cukup tiket untuk mencalonkan Capres/Cawapres.

Padahal, rajutan komunikasi dan kerjasama politik Partai Gerindra dengan PKS dan PAN telah lama dilakukan seperti pada momentum Pilkada serentak beberapa waktu lalu. Di sisi lain, PKS berpijak hasil ijtima' ulama yang digagas kelompok Persaudaraan Alumni 212, merekomendasikan Prabowo menggandeng pendakwah Ustad Abdul Somad dan Ketua Majelis Syura PKS Salim Jufri Assegaf.

Situasi ini tentu tidak ideal dialami partai-partai yang ketua umumnya atau kandidat yang diusung tidak masuk sebagai kandidat wakil presiden. Setidaknya, absennya figur partai politik dalam Pilpres akan menjadi faktor penting perolehan suara dalam pemilu legislatif yang digelar bersamaan itu.

Sumber di Parlemen mengungkapkan saat ini tengah dirajut komunikasi antarparpol yang tidak diakomodasi kepentingannya di masing-masing koalisi baik Prabowo dan Jokowi untuk membentuk poros baru dengan menghadirkan sosok kuda hitam. "Nama Pak Gatot menguat di poros ini," sebut sumber yang mewanti namanya tidak ditulis, Senin (6/8/2018).

Saat ditanya lebih lanjut siapa yang bakal dipasang mendampingi Gatot? Sumber tersebut menyebutkan figur Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar serta Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tengah ditimang. "Antara Cak Imin dan Anies," tambah sumber tersebut.

Jika memakai kalkulasi pertimbangan partai-partai yang tidak diakomodasi dalam koalisi Prabowo dan Jokowi, maka bakal terhimpun sejumlah partai politik seperti PKB (9,04%), PAN (7,59%), dan PKS (6,79%). Jika tiga partai politik ini bergabung maka syarat batas ambang pencaparesan sebesar 20% bakal terpenuhi. Artinya, jika skenario ini terjadi, maka tidak menutup kemungkinan poros alternatif atau kandidat kuda hitam bakal muncul di Pilpres 2019 mendatang.

Bagaimana dengan figur yang diusung? Jika skenario yang muncul dalam Pilpres 2019 mendatang bakal bertanding Prabowo, Jokowi dan figur baru, skenario seperti Pilkada DKI Jakarta tahun 2017 lalu bisa saja muncul di Pilpres mendatang. Meski, kesuksesan poros baru ini cukup ditentukan oleh siapa figur yang bakal diusung? Jika figur baru membawa harapan baru dan berbeda dari Prabowo dan Jokowi, tidak menutup kemungkinan poros ini bakal mengulang sukses Poros Tengah pada 1999 lalu, meski latar dan situasinya berbeda.

Komentar

x