Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 13 Desember 2018 | 10:18 WIB

Waspadai Gelombang Tinggi Hingga Agustus

Selasa, 31 Juli 2018 | 17:42 WIB

Berita Terkait

Waspadai Gelombang Tinggi Hingga Agustus
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memberi peringatan terkait tingginya gelombang yang akan mengguncang perairan laut hingga akhir Juli 2018.

Untuk itu, masyarakat dan nelayan supaya memperhatikan terus tingginya gelombang.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati mengatakan tenggelamnya Kapal Kayu Berkat Ilahi yang terjadi di Perairan Sape pada Minggu (29/7/2018) juga sebenarnya sudah masuk pantauan satelit cerah berawah di sekitar lokasi kejadian oleh BMKG.

"BMKG telah menyampaikan bahwa hingga akhir Juli 2018 masih terjadi potensi gelombang tinggi di beberapa wilayah perairan di Indonesia,"" kata Dwikorita, Selasa (31/7/2018).

Menurut dia, analisa BMKG bahwa kondisi cuaca dan tinggi gelombang pada saat kejadian itu sekira Pukul 08.00 hingga jam 11.00 kecepatan angin 18-27 km/jm (kategori sedang) dari arah Tenggara.

"Sementara, kondisi gelombang tinggi saat kejadian hingga pukul 11.00 di lokasi kecelakaan 3.0-4.0 m (kategori tinggi-sangat tinggi)," ujarnya.

Untuk itu, masyarakat terutama nelayan perlu mewaspadai potensi gelombang potensi tinggi yang dapat mencapai 4.0-6.0 meter (Very Rough Sea) pada tujuh hari kedepan, yakni 31 Juli hingga 5 Agustus 2018.

Menurutnya, hal itu berpeluang terjadi di Perairan Sabang, Perairan Mentawai, Perairan Bengkulu hingga barat Lampung, Selat Sunda bagian selatan, Perairan selatan Jawa hingga Pulau Sumba, Selat Bali-Selat Lombok-Selat Alas bagian selatan.

"Tetapi, pada 31 Juli-2 Agustus diprakirakan terjadi penurunan tinggi gelombang menjadi kategori Rough Sea, dan akan kembali terjadi peningkatan tinggi gelombang menjadi kategori Very Rough Sea pada 3-4 Agustus 2018," jelasnya.

Sementara, kata dia, tinggi gelombang 1.25 2.5 meter (Moderate Sea) berpeluang terjadi di Selat Ombai, Selat Sape bagian selatan, Laut Timor, Laut Natuna Utara, Perairan utara Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Selat Karimata, Laut Jawa , Selat Makassar.

Kemudian Laut Bali, Laut Flores, Perairan timur Sulawesi Tenggara, Laut Maluku, Laut Seram, Perairan utara Papua, Perairan Fak-fak - Kaimana, Perairan selatan Ambon, Laut Banda, Perairan Kep. Sermata hingga Kep. Tanimbar, Perairan Kep. Kai Kep. Aru, Laut Arafuru.

Sedangkan, lanjut dia, di Selat Malaka bagian utara, Perairan barat Aceh, perairan timur Pulau Simeulue hingga Nias, Selat Sumba bagian barat,Perairan selatan Pulau Sawu Pulau Rote, Laut Sawu berpeluang terjadi tinggi Gelombang 2.5 4.0 meter (Rough Sea).

"Gelombang tinggi di Perairan Selatan Indonesia dipicu oleh kecepatan angin yang tinggi. Selain itu, kondisi ini diakibatkan adanya Mascarene High di Samudera Hindia (Barat Australia). Kondisi ini juga menyebabkan terjadinya swell akibat dari kejadian mascarene high yang menjalar hingga wilayah Perairan Barat Sumatera, dan Selatan Jawa hingga P. Sumba," katanya.

Namun demikian, Dwikorita mengatakan pihak BMKG telah memberikan peringatan dini terkait cuaca dan gelombang tinggi di sekitar perairan Sape, Bima, NTB yang telah disampaikan kepada syahbandar setiap 12 jam. Bahkan, saat ini telah dapat menginformasikan 6 jam sebelum kejadian secara rutin.

Sebab, kantor Stasiun Meteorologi Bima telah melakukan berbagai langkah-langkah sebagai salah satu respon terhadap kejadian tenggelamnya kapal Kayu Berkat Ilahi, seperti telah memberi hasil dan desiminasi melalui prakiraan cuaca penyeberangan yang disampaikan secara rutin serta melakukan koordinasi dengan Basarnas untuk melakukan evakuasi korban.

"Masyarakat nelayan dan pelaku kegiatan wisata bahari agar memperhatikan tinggi gelombang laut mencapai 2 meter atau lebih di sekitar wilayah Perairan Selatan Bima dan Perairan Samudera Hindia Selatan NTB," katanya.

Di samping itu, Dwikorita juga menghimbau bagi masyarakat yang sedang menikmati keindahan pantai akan bahaya Rip Current yang merupakan arus kuat air yang bergerak menjauh dari pantai sehingga dapat menyapu perenang terkuat sekalipun.

Rip/ Back Current terjadi karena adanya pertemuan ombak yang sejajar dengan garis pantai sehingga menyebabkan terjadinya arus balik dengan kecepatan tinggi hingga lebih 2 m/detik, tergantung kondisi gelombang, pasang surut dan bentuk pantai.

"BMKG pun berupaya memberikan peringatan bahaya Rip Current kepada masyarakat melalui media sosial," tandasnya. [ton]

Komentar

x