Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 15 Oktober 2018 | 19:02 WIB

Membaca Peringatan JK Soal Cawapres Jokowi

Oleh : R Ferdian Andi R | Rabu, 18 Juli 2018 | 17:15 WIB

Berita Terkait

Membaca Peringatan JK Soal Cawapres Jokowi
Wakil Presiden Jusuf Kalla - (Foto: inilahcom/Eusebio CT)

INILAHCOM, Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengingatkan agar Cawapres yang dipilih Joko Widodo (Jokowi) setidaknya mampu menyumbang suara minimal 15%. Syarat ini memiliki makna penting bagi kondisi elektabilitas Jokowi saat ini serta siapa figur yang dinilai mampu membantu kemenangannya.

Wakil Presiden Jusuf Kalla memberi peringatan soal nilai penting figur Cawapres Jokowi yang akan mendampinginya saat Pemilu 2019 mendatang. Menurut JK, figur Cawapres Jokowi harus bisa menyumbang suara untuk Jokowi minimal 15%. "Pokoknya harus bisa menambahnya, minumum 15% suara," ujar JK di Kantor Wapres, Selasa (17/7/2018).

Pernyataan JK ini bisa dibaca soal elektabilitas Jokowi. Jika Cawapres Jokowi diasumsikan harus bisa menyumbang suara minimal 15%, dengan kata lain, elektabilitas Jokowi diasumsikan di titik 40%-an atau di bawah angka psikologis 50%. Jika angka 40% digabung dengan sumbangan suara dari faktor Cawapres sebesar 15%, maka mengumpulkan suara 55%. Sebuah angka yang aman untuk memenangi Pilpres.

Kondisi itu bila diasumsikan Cawapres Jokowi menyumbang minimal 15% suara untuk Jokowi. Bila merujuk hasil Pemilu Presiden 2014 lalu, pasangan Jokowi-JK mengumpulkan suara sebesar 53,15%. Sedangkan suara pasangan Prabowo-Hatta sebesar 46,85%.

Namun peringatan JK ini tidak linier dengan hasil temuan sejumlah perusahaan riset politik yang justru menempatkan elektabilitas Jokowi di titik aman alias di angka 50% lebih. Artinya, jika berpacu pada hasil riset perusahaan riset politik, peringatan Wapres JK soal sumbangan suara minimal 15% oleh Cawapres Jokowi tak memiliki relevansi dan konteksnya.

Seperti riset Poltracking yang dilakukan pada 27 Januari - 3 Februari 2018 lalu menempatkan Jokowi unggul dengan pencapaian 51,1%, jauh mengalahkan Prabowo yang hanya 26,1%. Begitu juga survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 21 Maret - 1 April 2018 menempatkan elektabilitas Jokowi di angka 55,9%, sedangkan elektabilitas Prabowo berada di angka 18,2%.

Survei Cyrus Network yang dilakukan pada 27 Maret - 3 April 2018, elektabilitas Jokowi nyaris 60% yakni 58,5%. Adapun Prabowo elektabilitasnya di angka 21,8%. Hal yang sama hasil riset Indikator Politik Indonesia yang dilakukan pada 25-31 Maret 2018 menempatkan elektabilitas Jokowi berada di angka 51,9% sedangkan Prabowo di angka 19,2%.

Peringatan JK soal syarat Cawapres Jokowi harus mampu menyumbang suara minimal 15% suara itu tak linier dengan temuan berbagai survei yang mengemuka sepanjang semester awal tahun 2018 ini. Jika merujuk hasil riset perusahaan lembaga riset tersebut, faktor Cawapres tak perlu dipatok menyumbang suara minimal 15% bagi kemenangan Jokowi. Lantaran figur Jokowi telah mampu mendulang suara di atas 50% lebih, itu versi lembaga riset. Yang pasti peringatan JK patut menjadi bahan bacaan menarik jelang pendaftaraan capres/cawapres awal Agustus mendatang. [*]

Komentar

Embed Widget
x