Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 16 Agustus 2018 | 18:02 WIB

Tito Akui Bachtiar Nasir Tak Secerdas yang Dilihat

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Selasa, 17 Juli 2018 | 18:37 WIB
Tito Akui Bachtiar Nasir Tak Secerdas yang Dilihat
Kapolri Jenderal Tito Karnavian - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kapolri Jenderal Tito Karnavian angkat bicara terkait video viral di media sosial yang diucapkan oleh aktivis kelompok 212, Bachtiar Nasir. Dalam video itu, Bachtiar menyebut Tito mendukung ideologi khilafah di Indonesia.

Tito menceritakan hal itu dihadapan Da'i seluruh Indonesia dalam acara silaturahmi Da'i Mewujudkan Kamtibmas yang Aman dan Damai di Pemilu 2019 di hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa (17/7/2018). Tito awalnya mengulang ucapan Bachtiar Nasir dalam video tersebut.

"Ditengah - tengah masyarakat kelompok HTI dan (Bachtiar) menyampaikan bahwa Indonesia harus menerapkan sistem Khilafah. Sistem Khilafah lah yang paling pas untuk negera Indonesia ini. Karena demokrasi liberal tidak benar menghancurkan negara ini. Dan saya sudah bertemu langsung oleh orang yang sangat berkompeten. Dan saya berdiskusi dengan orang yang berkompeten itu. Yaitu Kapolri Jenderal Tito Profesor Doktor Tito Karnavian. Dia mengatakan bahwa demokrasi ini sudah rusak. Oleh karena itu harus diganti dengan sistem Khilafah," ucap Tito menirukan ucapan Bachtiar Nasir dalam video tersebut.

Atas video yang beredar itu, Tito langaung menghubungi Bachtiar Nasir via WhatsApp (WA). Tito bahkan menyebut Bachtiar Nasir sebagai ustaz yang tidak cerdas.

"Kemarin (saya) komplain dengan Ustad Bachtiar Nasir karena ada video yang viral," kata Tito.

"Saya langsung WhatsApp yang bersangkutan (Bachtiar Nasir). Masih ada WAnya ini. Ustad itu saya anggap orang yang cerdas, negarawan. Setahu saya Berkali kali kita diskusi. Pengalaman saya, terkesan. Tapi begitu melihat kata kata ustad disitu, saya hilang kesan saya itu. Kesan saya ustad tidak secerdas yang saya lihat," imbuh Tito.

Tito membantah keras tudingan dari Bachtiar Nasir. Ia mengaku sama sekali tak menyebutkan khilafah cocok untuk demokrasi di Indonesia.

"Saya tidak pernah menyatakan bahwa saya mendukung khilafah. Yang saya sampaikan demokrasi liberal saat ini kalau kebablasan bisa menjadi pemecah bangsa ini," jelas Tito.

"Tapi saya tidak mengatakan ganti Khilafah. Tidak sama sekali tidak. Bahkan saya mengatakan khilafah berbahaya sama kaya demokrasi liberal," sambung Tito.

Tito menambahkan demokrasi yang paling cocok saat ini menurutnya adalah demokrasi Pancasila. Hal itu, sesuai dengan ideologi Indonesia yang berpegang teguh pada Pancasila.

"Saat ini yang saya sampaikan paling pas, demokrasi asli Indonesia. Demokrasi pancasila," pungkas Tito. [ton]

Komentar

x