Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 01:26 WIB

Ketika Dewa-dewa Partai Turun Gunung di Pileg

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 17 Juli 2018 | 15:42 WIB

Berita Terkait

Ketika Dewa-dewa Partai Turun Gunung di Pileg
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Komisi Pemilihan Umum (KPU) menutup pendaftaran calon anggota legislatif (Caleg) untuk DPRD Kabupaten/Kota, DPRD Provinsi dan DPR RI pada Selasa (17/7/2018). Berbagai jurus dilakukan partai politik untuk mendulang suara di Pemilu 2019 mendatang.

Pemilu 2019 menjadi ajang perdana partai politik untuk mengikuti pemilu secara serentak baik pemilu legislatfif dan pemilu presiden. Pemilu 2019 juga menerapkan sistem pemilu "sainte lague" yang berdasarkan peringkat suara, suara habis dibagi di dapil, tanpa menggunakan bilangan pembagi pemilih (BPP) sebagaimana Pemilu 2014 lalu.

Maka tak heran bila sistem ini mengondiisikan partai politik mencalonkan figur yang kuat dan mengakar di konstituen. Konsekuensinya, sejumlah nama beken di masing-masing partai politik dimunculkan.

Seperti yang terjadi di PDI Perjuangan mencalonkan sejumlah figur beken didaftarkan sebagai calon anggota legislatif. Tak urung tokoh seperti Puan Maharani yang kini menjabat Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung masuk dalam daftar caleg sementara (DCS) PDI Perjuangan

Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan Eriko Sotarduga mengatakan secara diplomatis pihaknya menginginkan Puan Maharani kembali mencalonkan sebagai anggota DPR RI mengingat perolehan suara Puan pada Pemilu 2014 lalu cukup tinggi. "Kalau tidak salah hampir 400.000 angkanya, ini kan besar sekali. Alangkah sayangnya suara seperti itu," sebut Eriko di gedung DPR, Kompleks Parlemen Senayan Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Begitu juga figur seperti Tjahjo Kumolo dan Pramono Anung, Eriko juga berharap nama-nama tersebut dapat dimajukan dalam Pileg 2019 mendatang melalui PDI Perjuangan. "Kami melihat memang kecenderungan dari partai sangat menginginkan untuk para menteri kita untuk maju," tegas Eriko.

Sementara strategi yang sama juga muncul dari PKB. Menurut salah satu sumber di internal PKB menyebutkan para menteri yang berasal dari PKB yakni Menaker Hanif Dhakiri dan Menpora Imam Nahrawi akan diterjunkan menjadi caleg untuk dapil yang berbeda seperti Pemilu 2014 lalu. "Mas Imam maju di Dapil Bali dan Hanif Dhakiri dari Dapil Bekasi Depok (Jabar VI)," ucap sumber di internal PKB.

Kedua menteri PKB itu sengaja dimajukan dari dapil yang berbeda dari pemilu sebelumnya bertujuan untuk membuka kantung suara baru bagi PKB. Terlebih dua dapil tersebut yakni Bali dan Bekasi-Depok selama ini tidak memiliki wakil DPR dari PKB.

Lain cerita dengan Partai NasDem. Partai besutan Surya Paloh ini gencar disebut membajak sejumlah anggota DPR lintas fraksi untuk dicalonkan melalui Partai NasDem dalam Pemilu 2019 mendatang. "Kalau tidak salah ada 38 anggota DPR incumbent lintas fraksi yang akan maju melalui Partai NasDem," ucap salah satu anggota DPR yang hijrah ke NasDem yang enggan namanya disebut kepada INILAH.COM, Selasa (17/7/2019).

Sejumlah nama disebut-sebut hijrah ke Partai NasDem di antaranya dari kalangan selebriti dan figur publik di DPR seperti Okky Asokawati yang semula di PPP, Vena Melinda yang semula di Partai Demokrat, serta Arief Suditomo yang semula di Partai Hanura.

Strategi partai politik mengajukan sejumlah publik figur dan tokoh penting di partai untuk menggaet suara. Sistem pemilu "sainte lague" memaksa partai politik untuk menghadirkan caleg prospektif yang bisa mendulang suara banyak dalam Pemilu 2019 mendatang.

Komentar

Embed Widget
x