Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 24 September 2018 | 09:46 WIB

15 Tahun LBH Pers

LBH Pers Catat Kekerasan Jurnalis Masih Banyak

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Jumat, 13 Juli 2018 | 03:12 WIB

Berita Terkait

LBH Pers Catat Kekerasan Jurnalis Masih Banyak
Direktur Eksekutif LBH Pers, Nawawi Bahrudin - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Eksekutif LBH Pers, Nawawi Bahrudin memiliki catatan selama 15 tahun menjalankan roda organisasi bantuan hukum terhadap dunia pers. Menurut dia, masih banyak kekerasan terhadap jurnalis setelah reformasi 1998.

"Terkait kebebasan pers, reformasi 1998 tidak membawa angin perubahan dan perlindungan terhadap kerja-kerja pers di Indonesia. Meskipun, terdapat UU Pers tapi kelemahan perlindungan pers masih terlihat dari banyaknya kekerasan terhadap jurnalis baik secara fisik maupun non fisik," kata Nawawi di Jakarta, Kamis (12/7/2018).

Ia menjelaskan LBH Pers dari tahun 2003 sampai akhir 2017 setidaknya mencatat ada 732 kasus kekerasan kepada jurnalis, baik itu fisik maupun non fisik. Menurut dia, terdapat 2 faktor yang mengakibatkan kasus kekerasan terhadap jurnalis akan terus berulang.

"Yakni pihak jurnalis sudah melakukan pelaporan kepada pihak kepolisian, namun penyelesaiannya lama bahkan terkesan tidak ada tindak lanjut. Kemudian pihak jurnalis atau perusahaan medianya memilih mendiamkan dan tidak mau berurusan dengan proses hukum," ujarnya.

Belum lagi, kata Nawawi, masih terdapat pembatasan-pembatasan hak atas informasi di Papua seperti kasus kekerasan jurnalis lokal maupun pelarangan peliputan jurnalis asing. Frekuensi publik masih disalahgunakan untuk kepentingan partai politik, kelompok maupun pribadi tertentu.

"Isi siaran yang masih menayangkan kekerasan, tidak sensitif gender maupun tidak ramah anak. Isi siaran TV sangat Jakartasentris. Sistem siaran jaringan (SSJ) tidak dilaksanakan dengan benar. Serta, kepemilikan stasiun TV yang mengindikasikan pelanggaran UU Penyiaran Nomor 32/2002," jelas dia.

Ia menambahkan sejak tahun 2003, LBH Pers telah menangani sedikitnya 120 kasus ketenagakerjaan yang korbannya adalah jurnalis atau pekerja media. Sedangkan, pola pelanggaran ketenagakerjaan yang terjadi seperti PHK sepihak, mutasi karena kritis terhadap perusahaan media.

"Kemudian pemberangusan serikat, tidak diberikannya hak jaminan sosial tenaga kerja, dipaksa mengundurkan diri, diikat dengan perjanjian kerja yang tidak sesuai undang-undang tenaga kerja (seperti kontributor, tuyul dan lain-lain), pencicilan upah atau pesangon," tandasnya.[ris]

Komentar

x