Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 16 November 2018 | 03:05 WIB

Moeldoko Si Panglima "TANI"

Rabu, 11 Juli 2018 | 21:01 WIB

Berita Terkait

Moeldoko Si Panglima
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Anak dusun yang berkarier cemerlang menjadi julukan yang pas bagi Jenderal TNI (Purn) Dr H Moeldoko. Selain melejit dikarirnya sebagai Panglima TNI, Moeldoko pria kelahiran Kediri, Jawa Timur, 8 Juli 1957 itu belakangan tengah fokus untuk mengembangkan sektor pertanian di Indonesia.

Dunia pertanian bukan hal asing baginya, di mana ia adalah salah satu anak seorang petani yang sukses dan menjadi negarawan. Anak dusun yang menjadi negarawan, mungkin kata-kata ini yang pantas diterima dirinya.

Kisah Moeldoko ini tertuang dalam buku yang berjudul "Panglima TANI Moeldoko: Anak Dusun Yang Jadi Negarawan". Kesuksesan Moeldoko dikarirnya saat ini, tidak instan begitu saja didapatnya. Moeldoko lahir dari keluarga miskin sehingga sejak kecil terbiasa kerja keras dan berjuang.

Dulu, orang tuanya serba kekurangan untuk membiayai anak-anaknya yang cukup banyak. Pendapatan orang tuanya pun tak menentu hingga membuat hidup keluarga ini seperti terjebak dalam rimba kemiskinan.

Dirinya kerap kesulitan jika ingin memakan nasi beserta lauk pauk yang cukup kala masih kecil. "Sering saya ambil ubi dari kebon sebelah (rumah) dulu," cerita dia dalam buku tersebut.

Sebagai anak langgar, dalam hidup yang serba prihatin, Moeldoko menghadapinya dengan lebih banyak mendekatkan diri kepada yang maha kuasa.

Ia sering bertirakat dengan melaksanakan puasa sunah setiap Senin dan Kamis. Hal itu terus dilakukannya secara rutin walau pun sambil membantu kakaknya mengangkat batu dan mengangkut pasir dari sungai. Meski serba kekurangan, orang tuanya berharap anak-anaknya jadi orang berguna. Semasa kecil, Moeldoko termasuk anak yang cekatan dan pekerja keras. Bahkan, sejak kecil ia sudah bekerja mengangkut batu dan pasir dari kali setiap pulang sekolah.

Moeldoko tak pernah berhenti belajar. Selain sering mengikuti pendidikan kemiliteran di lingkungan TNI termasuk Lemhannas, Moeldoko juga terus menimba ilmu di dunia pendidikan umum. Itulah yang mengantarnya meraih gelar doktor ilmu administrasi pemerintahan dari Universitas Indonesia.

Sejak itu pada namanya selalu disematkan gelar Dr Moeldoko. Ayahnya mendidik Moeldoko dmengan keras. Sementara ibunya membimbingnya dengan penuh kasih sayang dan kelembutan. Kontradiksi tersebut pada akhirnya menjadi sebuah paradok dalam dirinya. Ia bisa tegas namun juga dapat memiliki empati pada lingkungannya.

Moeldoko termasuk melejit dalam karirnya. Sejak kecil dirinya sudah bercita-cita menjadi tentara. Maka ketika lulus SMA ia pun kemudian masuk Akabri. Setelah lulus kariernya melejit sejak menjabat Kasdam Jaya (2008). Bahkan pada 2010, dia mengalami tiga kali rotasi jabatan dan kenaikan pangkat mulai dari Pangdiv 1/Kostrad (Juni-Juli 2010), menjadi Pangdam XII/Tanjungpura (Juli-Oktober 2010) dan Pangdam III/Siliwangi (Oktober 2010-Agustus 2011). Tak sampai dua bulan berikutnya, Moeldoko naik pangkat menjadi Letnan Jenderal dengan jabatan Wakil Gubernur Lemhannas.

Kemudian pada Februari 2013 Moeldoko menjadi Wakasad dan naik lagi jadi Kasad pada 22 Mei 2013 dengan pangkat bintang empat (jenderal). Lalu, hanya tiga bulan berikutnya setelah menjabat Kasad, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai calon tunggal Panglima TNI.

"Sikap saya sangat jelas, tegas, dan tidak kenal kompromi dalam menjaga kedaulatan NKRI. Saya Jenderal TNI Moeldoko siap memimpin TNI," ujarnya kala itu saat fit and propertest.

Saat pensiun dari TNI, Moeldoko ditunjuk untuk menjabat sebagai ketua umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2017 hingga 2020. Pengukuhan Moeldoko dilaksakan pada pelaksanaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) HKTI tahun 2017 silam. Dunia pertanian bukan hal asing baginya.

Ia adalah anak seorang petani. Maka seusai meninggalkan dinas keprajuritannya ia pun memilih menjadi petani. Pengalaman itulah yang ia jadikan sebagai modal dalam memimpin HKTI.

Selama menjabat sebagai ketua HKTI, Moeldoko berharap bahwa HKTI bisa menjadi mitra strategis dan positif pemerintah dalam hal ketahanan pangan bagi rakyat dan pemerintah Indonesia. Harapan baru bagi rakyat bagaimana mewujudkan kesejahteraan, harapan pemerintah mewujudkan kedaulatan pangan dalam rangka ketahanan pangan.

Menteri pertanian, Amran Sulaiman, pernah memuji Moeldoko sebagai ketua umum HKTI yang telah berbuat banyak untuk pertanian Indonesia. "Seandainya ada 100-200 jenderal seperti Pak Moeldoko yang turun ke pertanian, bisa bergetar ini Indonesia," kata Amran.

Karena dinilai kredibel dan berpengalaman, setelah sekitar tiga tahun pensiun dari TNI, Moeldoko dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Presiden (KSP) menggantikan Teten Masduki pada 17 Januari 2018 lalu.

Moeldoko menegaskan bahwa ia siap melaksanakan tugasnya sebagai KSP secara profesional. Menurutnya, salah satu tugas KSP adalah menyelesaikan masalah yang terjadi dalam pelaksanaan program-program prioritas nasional, termasuk juga percepatan untuk pelaksanaannya.

Selain bertani, Moeldoko juga banyak melakukan aktivitas bisnis. Salah satu bisnis inovatif dan visionernya adalah mendirikan pabrik bus bertenaga listrik. Bus buatan dalam negeri ini diberi MAB (Mobil Anak Bangsa). Sebagai pemiliknya, ia berencana memberikan 5 lerss. saham PT Mobil Anak Bangsa (PT. MAB) untuk anak Indonesia yang siap berkontribusi dalam mengembangkan teknologi di era modern saat ini.

Moeldoko juga aktif di ranah ekonomi syariah. Bersama putranya ia mendirikan fintech syariah yang berorientasi membantu pelaku bisnis UMKM. Dan ia juga merupakan wakil ketua dewan pembina Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES).

Itulah beberapa fakta menarik tentang Moeldoko yang tampil dalam buku ini. Menilik dari perjalanan hidup dan kehidupannya sejak kecil hingga sekarang menjadi KSP, cukup tergambar bahwa ia merupakan seorang pejuang yang gigih dan tangguh serta sekaligus merupakan sosok seorang negarawan yang sengat peduli terhadap bangsa dan negara.Salah satu filosofi hidupnya yang ia pegang teguh adalah "Urip iku urup".

Hidup itu harus menghidupi. Intinya, hidup harus memberikan manfaat bagi orang lain, baik itu berupa hal-hal kecil maupun hal besar. Filosofi Jawa tersebut menjadi pegangan hidup Moeldoko. Jenderal bintang empat ini beprinsip, hidup harus bermanfaat bagi orang lain. "Setiap hari harus memberikan manfaat," ucapnya.[jat]

Komentar

Embed Widget
x