Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 15 Desember 2018 | 10:46 WIB

Utak-atik Pendamping Jokowi

Oleh : Latihono Sujantyo | Rabu, 11 Juli 2018 | 01:46 WIB

Berita Terkait

Utak-atik Pendamping Jokowi
Presiden Jokowi - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta--Siapakah pendamping Jokowi pada Pilpres 2019? Jokowi kali ini harus ekstra ketat memilih cawapres.

Tadi malam, saya dan empat teman kongkow di sebuah warung kopi yang tidak begitu mewah di kawasan Jakarta Pusat. Ada profesional, dosen sebuah perguruan tinggi negeri ternama, wartawan, dan satunya lagi sudah bergelar profesor. Kami memang sering berkumpul, paling tidak seminggu sekali.

Sambil menunggu pertandingan semifinal Piala Dunia antara kesebelasan Belgia vs Perancis, kami pun ngobrol banyak tema. Tapi dari sekian tema itu, yang paling banyak kami obrolkan adalah soal calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang nanti akan berlaga pada pentas Pemilu Presiden (Pilpres) 2019.

Di kubu oposisi belum diketahui siapa yang akan menjadi capres. Betul, Partai Gerindra sudah menggadang-gadang Prabowo Subianto dan banyak pihak juga menginginkan mantan Letjen (Purn) Pangkostrad ini. Bahkan, sudah banyak yang ingin menyandingkan Prabowo dengan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), atau Prabowo bersama Ahmad Heryawan (kader PKS dan mantan Gubernur Jawa Barat), atau Prabowo dengan Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta).

Hanya saja, di tubuh koalisi oposisi masih terjadi tarik menarik. PKS kabarnya lebih menginginkan pasangan Anies Baswedan-Aher, tapi ada juga yang menyodorkan pasangan Prabowo-Anies, atau Prabowo-Aher.

Kami sendiri dalam obrolan itu lebih setuju oposisi mengajukan pasangan Anies-Aher. Kedua tokoh masih anak-anak muda, punya pengikut cukup banyak, dan punya kinerja cukup baik.

Kalau oposisi masih sibuk siapa yang akan menjadi capres dan cawapres, di kubu pemerintah sudah jelas capresnya, yakni Joko Widodo (Jokowi) yang saat ini Presiden RI.

Persoalannya siapa cawapres Jokowi? Banyak kabar dan isu beredar belakangan bahwa Jokowi pantas berpasangan dengan Mahfud MD, atau Airlangga Hartarto (Ketua Umum Partai Golkar), atau Chairul Tanjung (pemilik CT Corp). Hingga saat ini, Jokowi belum mengumumkan siapa pendampingnya.

Tentu saja, nama-nama di atas adalah tokoh-tokoh hebat. Namun, dalam obrolan malam itu, si profesor tiba-tiba memunculkan nama Sudirman Said, mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) di Kabinet Kerja Jokowi. "Sama-sama wong deso, sama-sama tak jauh usianya, sama-sama punya integritas tinggi, sama-sama gila kerja," kata sang profesor, teman ngobrol itu.

"Sudirman adalah contoh bagus tokoh publik nan bersih. Sepanjang karier profesionalnya, dia menunjukkan integritasnya yang tinggi, pemberani, dan tanpa tedeng aling-aling dalam urusan pemberantasan korupsi. Ini modal dasar yang bagus untuk mendampingi Pak Jokowi pada Pilpres nanti," tambah profesor.

Saat kami menyimak penuturan si profesor, dosen teman kami menimpali, Sudirman itu memang tamatan Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN), tapi ia malah dikenal sebagai aktivis antikorupsi. "Berbeda dengan aktivis lainnya, Sudirman berpenampilan rapi dan bukan aktivis jalanan. Ia lebih banyak menyoal transparansi keuangan sebuah lembaga atau instansi," katanya.

Sudirman menjadi aktivis antikorupsi dimulai dengan mendirikan beberapa organisasi antikorupsi, seperti Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) dan Indonesia Institute for Corporate Governance (IICG) tahun 2000. Lembaga ini menuntut perilaku yang bersih dalam mengelola keuangan negara dan perusahaan.

Ia lebih banyak mendapat tugas untuk membenahi budaya korupsi, meningkatan produktivitas, dan keuntunngan bisnis melalui pengelohan keuangan yang bersih. Sikap tersebut dilaksanakan tidak hanya di perusahaan, tapi juga di instansi pemerintah.

"Setelah tak jadi menteri, Sudirman laris manis diundang untuk mengisi acara dari berbagai kalangan, baik dalam maupun luar negeri. Ia diminta untuk berbicara mengenai kepemimpinan dan motivasi," tutur dosen ini.

Si dosen kemudian menyodorkan hasil survei Litbang Kompas atas hasil Pilkada Jawa Tengah yang diikuti Sudirman Said berpasangan dengan Ida Fauziyah. Dalam sejumlah survei yang dilakukan sebelum pilkada, misalnya, Sudirman Said-Ida Fauziyah beradadalam posisi yang terkalahkan secara telak. Kedua pasangan terpaut hingga lebih dari 50 persen dengan pasangan Ganjar Pranowo-Taj Yasin. Namun, saat hari pencoblosan, pasangan Sudirman Said-Ida Fauziyah mampu memperkecil kekalahan hingga terpaut hanya 16,5 persen.

Wilayah seperti Brebes, Tegal, dan Wonosobo yang sebelumnya dominan dikuasai Ganjar Pranowo-Taj Yasin tergerus. Bahkan, wilayah yang menjadi benteng PDI-P, seperti Surakarta, mulai dibayangi oleh penguasaan Sudirman Said-Ida Fauziyah.

"Ini artinya apa? Artinya, Sudirman-Ida dalam waktu yang yang sangat mepet mampu meraih suara begitu banyak. Ini jarang bisa dilakukan tokoh-tokoh lain," tambah si dosen.

Menurut si dosen ditambah sang profesor, Jokowi harus ekstra ketat dalam memilih cawapres. Misalnya, si cawapres harus punya wawasan ke depan, paling tidak bagaimana Indonesia diproyeksikan sepanjang 2019-2014, seperti ledakan informasi, fenomena milenial, peta kekuatan ekonomi dan politik global, dan lain-lain. Pendek kata, si cawapres harus peka terhadap tantangan zaman.

Tak hanya itu, si cawapres pun harus punya pengalaman memimpin, integritas, dan chemistry. "Kan bisa lucu kalau presiden dan wakil presiden tidak sejalan," ujar mereka.

Selain itu, sosok cawapres Jokowi harus dapat menambah dukungan suara.

"Semua kriteria ini dimiliki Sudirman Said," kata mereka dengan nada serius. "Ini JOSS rasa jus. JOSS itu adalah Jokowi-Sudirman Said," tambah mereka, kali ini sambil tertawa.

Malam semakin larut, obrolan kami terhenti oleh tayangan di layar televisi saat kesebelasan Belgia dan Perancis memasuki lapangan hijau. [lat]

Komentar

x