Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 21 September 2018 | 19:57 WIB

Nominator Cawapres

Untung Rugi Jokowi Pilih Moeldoko & Budi Gunawan?

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 10 Juli 2018 | 19:55 WIB

Berita Terkait

Untung Rugi Jokowi Pilih Moeldoko & Budi Gunawan?
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Sosok siapa Cawapres pendamping Jokowi masih misterius. Kendati disebut Jokowi telah mengantongi nama Cawapres, namun belum jelas siapa sosok yang dimaksud. Di antara nama-nama yang muncul, sosok Moeldoko dan Budi Gunawan kerap disebut sebagai kandidat potensial untuk mendampingi Jokowi. Bagaimana untung rugi dari kedua figur ini?

Dua nama yang beredar sebagai nominator Cawapres Jokowi di antaranya Moeldoko dan Budi Gunawan, dua tokoh yang memiliki latar belakang TNI dan Polri. Kedua orang ini termasuk sosok penting di pemerintahan Jokowi saat ini.

Soal latar belakang Cawapres Jokowi, Ketua Umum PPP Romahurmuziy memberi bocoran latar belakang kandidat yang berasal dari purnawirawan TNI dan Polri. "Ada figur politisi, ada figur cendekiawan, purnawirawan TNI-Polri dan kalangan teknokrat dan profesional," ungkap Romy di kantor DPP PPP, Senin (9/7/2018).

Moeldoko, saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Staf Presiden (KSP). Posisi Moeldoko di KSP menjadikan mantan Panglima TNI orang penting di lingkar dalam Presiden Jokowi. Tugas dan wewenang KSP di tangan Moeldoko tampak lebih strategis dibanding pendahulunya di KSP yakni di era Teten Masduki.

Moeldoko juga tampak diberi porsi panggung yang lebih bila dibandingkan dengan pendahulunya Teten Masduki. Sejumlah isu strategis tak luput direspons oleh pria kelahiran Kediri, Jawa Timur ini.

Meski berlatar belakang TNI, namun Moeldoko bisa disebut sebagai tentara cum akademisi. Ini terbukti dengan pencapaian akademik tertingginya sebagai doktor di ilmu politik di Universitas Indonesia (UI) dengan capaian nilai yang memuaskan.

Hanya saja, figur Moeldoko memiliki sisi kelemahan. Ia tidak memiliki basis massa di akar rumput. Latar belakang sebagai Panglima TNI serta aktif di HKTI belum menjadikan Moeldoko populer di akar rumput. Di poin ini menjadi persoalan krusial bagi Jokowi jika mengingkan kemenangan dalam Pilpres 2019 mendatang.

Figur lainnya nama Budi Gunawan juga mencuat. Purnawirawan Jenderal Polisi ini diam-diam juga potensial dipilih menjadi Cawapres Jokowi. Figur Budi Gunawan bukanlah figur asing di mata Jokowi dan PDI Perjuangan. Saat awal 2015, nama Budi Gunawan menjadi calon tunggal Kapolri yang diusulkan Presiden. Namun usulan tersebut urung dilakukan karena Budi Gunawan saat itu tersandung kasus hukum di KPK. Meski, status tersebut telah tuntas seiring pra peradilan yang diajukan Budi Gunawan diterima majelis hakim.

Gagal menjadi Kapolri, bukan berarti karir Budi Gunawan sirna. Ia kembali diusulkan Presiden Jokowi untuk menduduki Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) menggantikan posisi Sutiyoso. Usulan nama Budi Gunawan sebagai Kepala BIN oleh Presiden disepakati oleh DPR.

Hingga kini, Budi Gunawan menjabat sebagai Kepala BIN. Di era reformasi, Budi Gunawan merupakan sosok jenderal polisi yang kedua menjadi Kepala BIN setelah sebelumnya mantan Kapolri Jenderal (Purn) Sutanto juga menjadi Kepala BIN di era pemerintahan SBY.

Selain menjadi Kepala BIN, Budi Gunawan juga terlibat aktif dalam organisasi kemasyarakatan yakni Dewan Masjid Indonesia (DMI). Ia didapuk sebagai Majelis Pakar Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Hanya saja, keterlibatan Budi Gunawan di DMI bukan berarti namanya populer di kalangan pemilih khususnya dari kalangan pemilih muslim. Di poin ini juga menjadi titik lemah Budi Gunawan. Terlebih jika menilai Jokowi membutuhkan pasangan yang bisa melengkapi sisi Jokowi yang membutuhkan wakil yang memiliki irisan keislaman yang kuat.

Sisi kelebihan dari dua calon ini, keduanya berlatarbelakang militer dan polisi. Tantangan persoalan pertahanan dan keamanan akan tertutupi dengan figur dua kandidat ini. Di saat bersamaan, dua kandidat yang tidak berlatar belakang aktivis partai politik ini juga memiliki resistensi dukungan dari partai koalisi. Meski di poin ini pula bisa diubah menjadi sisi keunggulan dua kandidat ini.

Komentar

x