Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 18 Juli 2018 | 00:40 WIB
 

Golkar Nilai Isu Ini Bisa Jadi Titik Lemah Jokowi

Oleh : Happy Karundeng | Senin, 9 Juli 2018 | 06:03 WIB
Golkar Nilai Isu Ini Bisa Jadi Titik Lemah Jokowi
Politikus Partai Golkar Melchias Mekeng - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Politikus Partai Golkar Melchias Mekeng mengaku tidak ingin terjebak dalam pembahasan skema pasangan Joko Widodo (Jokowi) dalam Pilpres 2019. Terlebih wacana yang coba berspekulasi tentang pasangan Jokowi dari sisi latar belakang. Baik militer, agama maupun profesional.

"Saya tidak mau masuk dikotomi ABRI non ABRI, Islam moderat vs Islam garis keras. Karena saya percaya kalau mesin partai semua pendukung benar-benar diutilisasi secara optimal, hasilnya pun akan maksimal. Jadi titik lemah Jokowi bisa ditutupi oleh kader partai yang diusung," katanya kepada INILAHCOM, Minggu (8/7/2018).

Meski demikian ia mengaku sebagai pandangan objektiv partai, ada satu sisi belakangan disebut-sebut sebagai titik lemah Jokowi yang mungkin bisa membuka celah lawan politik melancarkan serangan. Isu Jokowi tidak berpihak ke kaum agama, bisa jadi senjata.

"Ya mungkin bagi saudara-saudara kita yang agak keras agamanya, mungkin Jokowi dianggap kurang berpihak ke mereka. Kita akan antisipasi dengan mencoba yakinkan sebanyak mungkin ke para ulama tentang visi bernegaranya dan banyak ceramah di pesantren-pesantren," bebernya.

Ia pun menegaskan, meski ini terbaca sebagai kelemahan Jokowi, tapi Partai Golkar tetap tidak ingin ikut merespon isu spekulatif tentang skema-skema pasangan Jokowi termasuk bakal calon dari kalangan agamawan.

"Kan sudah saya katakan Golkar itu partai Nasionalis, jadi paradigma berpikirnya tidak masuk ke dalam dikotomi agama," tandasnya.

Diketahui, pesta demokrasi Pemilihan Presiden 2019 sudah didepan mata. Komisi Pemilihan Umum akan membuka pendaftaran pasangan capres dan cawapres Pilpres 2019 pada 4 hingga 10 Agustus 2018. Penetapan capres dan cawapres Pilpres 2019 akan dilakukan pada 20 September 2018. Tiga hari kemudian, pada 23 September 2018, akan digelar kampanye Pileg dan Pilpres 2019.

Spekulasi nama pendamping Jokowi pun mulai beredar luar. Dua nama yang disebut-sebut berpeluang kuat jadi pendamping Jokowi adalah Chairul Tandjung (CT) dan Sri Mulyani Indrawati (SMI).

Februari 2018 lalu, secara resmi PDIP mengusung Joko Widodo sebagai calon presiden Periode 2019-2024. Sejumlah partai politik juga sebelumnya telah secara jelas menyatakan dukungannya kepada Jokowi untuk maju dalam Pilpres 2019.

Deklarasi pengusungan Jokowi sebagai calon presiden berlangsung dalam Rapat Kerja Nasional PDIP di Hotel Grand Inna Beach Sanur, Bali pada 23 Februari 2018.

Pada Pilpres 2019, Jokowi sampai saat ini telah diusung delapan partai politik yaitu Partai Nasional Demokrat, Partai Solidaritas Indonesia, Partai Golkar, PPP, dan Partai Hanura. Berikutnya, tiga partai politik lain memberi dukungna yaitu Perindo, PKPI, serta PDIP. [hpy]

Komentar

Embed Widget

x