Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Juli 2018 | 00:20 WIB

Implikasi Politik TGB Dukung Jokowi

Oleh : R Ferdian Andi R | Sabtu, 7 Juli 2018 | 02:00 WIB
Implikasi Politik TGB Dukung Jokowi
Presiden Joko Widodo dan Tuan Guru Bajang (TGB) - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kejutan demi kejutan menjelang pendaftaran capres/cawapres terus bermunculan. Salah satunya, sejumlah tokoh yang semula menjadi bagian aksi fenomenal 212 pada 2 Desember 2016 lalu kini menjadi loyalis dan pendukung Jokowi untuk dua periode. Apa dampaknya?

Tokoh-tokoh yang semula berada di shaf alumni 212, satu persatu berpindah haluan. Sedikitnya dua tokoh penting dalam barisan ini secara demonstratif kini masuk dalam barisan pendukung Jokowi. Mereka yakni Ali Muchtar Ngabalin, kini menjadi staf ahli utama di Kantor Staf Presiden dan Zainul Abdul Majdi alias Tuan Guru Bajang (TGB) yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur NTB.

Dua tokoh tersebut merupakan alumni aksi massa fenomenal pada 2 Desember 2016 yang kini berubah menjadi Persaudaran Alumni 212 (PA 212). Kelompok ini memiliki kecenderungan aspirasi politik #2019GantiPresiden.

Pasca-berlabuhnya dua tokoh penting dalam barisan pendukung Jokowi dua periode tentu menimbulkan kegundahan di publik, khususnya dari kelompok PA 212. Tak urung dai kondang Abdul Somad yang notabene satu almamaternya di Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir dengan TGB banyak mendapat pertanyaan ihwal sikap TGB yang mulanya digadang-gadang sebagai capres, balik badan menjadi pendukung Jokowi. Melalui akun instagram miliknya, Ustadz Somad menyebutkan agar publik menunggu perintah Rizieq Shihab. "Tunggu HRS," tulis Somad di akun resminya, Kamis (5/7/2018).

Respons miring memang bermunculan atas sikap politik TGB ini. Kendati TGB telah menyampaikan alasan mengapa dirinya mendukung Jokowi dua periode, namun alasan tersebut disangkal banyak pihak yang semula mengelu-elukan TGB sebagai pemimpin masa depan.

Pilihan politik TGB ini tentu merupakan hak konstitusional seseorang untuk menentukan pilihannya. Soal apakah pilihan politik ini memberi dampak bagi Jokowi secara elektoral, tentu perlu diuji terlebih dahulu. Pernyataan lainnya, apakah pilihan politik TGB bakal diikuti para pengikutnya yang merasa memiliki kesamaan dengan TGB dengan mendukung Jokowi?

Di sisi lain, apakah pilihan politik TGB ini juga akan mengubah soliditas di internal PA 212 yang memiliki romantisme bersama soal aksi yang dinilai heroik pada akhir 2016 itu. Jika mencermati lini masa sejumlah pengguna platform media sosial, pilihan politik TGB ini telah membingungkan masyarakat yang sedari awal mengelu-elukan TGB. Kebingungan ini tampak tercermin dari berbagai respons yang muncul dengan mempertanyakan sikap TGB ini.

Sinyalemen Abdul Somad yang meminta masyarakat agar menunggu arahan Habib Rizieq Shihab terkait sikap politik TGB dinilai bakal memupus kebingungan publik atas sikap politik TGB tersebut. Setidaknya, pendapat dan pernyataan Habib Rizieq dapat mengakhiri kebingungan publik, kendati tanpa pendapat Rizieiq pun, publik melalui media sosial telah memberi pendapat dan penilaian atas sikap TGB.

Sikap politik TGB ini jika dirunut jejak rekam politiknya tentu bukanlah sikap yang mengejutkan. Setidaknya jejak rekam politik selama berkarir di politik, TGB sedikitnya telah berpindah dua kali partai politik dari PBB, partai besutan Yursil Ihza Mahendra, yang menghantarkan TGB menjadi anggota DPR kemudian berlabuh ke Partai Demokrat besutan SBY.

Komentar

Embed Widget

x