Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 24 Juli 2018 | 00:20 WIB

Mencari Suksesor Jokowi; Anies atau Gatot?

Oleh : R Ferdian Andi R | Kamis, 5 Juli 2018 | 18:42 WIB
Mencari Suksesor Jokowi; Anies atau Gatot?
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Satu bulan ke depan pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden akan dimulai. Di luar kandidat petahana Jokowi, sejumlah formasi pasangan dimunculkan ke publik. Mencari kesamaan, menanti respons publik dan paling utama mencari dukungan politik dan logistik. Adakah kejutan sosok suksesor Jokowi?

Sejumlah nama muncul ke permukaan untuk dipasarkan ke publik maupun partai politik yang berhak mengajukan pasangan capres/cawapres. Salah satunya mencuat sosok Gubenrur DKI Jakarta Anies Baswedan. Namanya laris dipasangkan dengan sejumlah tokoh mulai Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), mantan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Panglima TNI Gatot Nurmantyo hingga disandingkan sebagai pendamping Jokowi.

Meski Anies selalu menjawab diplomatis soal kemunculan namanya dalam sejumlah formasi, tak bisa ditutupi atensi publik atas figur Anies tidaklah kecil. Setidaknya, namanya selalu muncul dalam sigi perusahaan riset politik. "Jangan salat sebelum azan mulai. Belum ada azan kok sudah salat," ujar Anies bertamsil usai bertemu dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan, Kamis (5/7/2018).

Sepak terjang Anies dalam beberapa kesempatan di DKI Jakarta membetot perhatian publik. Mulai soal penutupan tempat hiburan malam Alexis, penyegelan pulau reklamasi, termasuk program rumah DP 0%. Anies dinilai merepresentasikan figur antitesa Jokowi, setidaknya Anies dianggap mewakili politisi muslim. Dalam konteks ini, figur Anies dapat dianggap mewakili entitas yang belakangan menggelorakan tanda pagar #2019GantiPresiden.

Soal posisi Anies yang saat ini masih menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta, ini bukan soal. Setidaknya, preseden Jokowi pada 2014 lalu yang meninggalkan Balaikota Jakarta untuk mengikuti Pilpres dapat dijadikan acuan etik bagi Anies untuk melenggang dalam kontestasi Pilpres 2019 mendatang.

Selain figur Anies, nama mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo juga mencuat diposisikan sebagai suksesor Jokowi. Kendati belakangan namanya seolah meredup, namun, figuritas Gatot tidak bisa dipandang sebelah mata. Sikap dan posisi politiknya dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan antitesa terhadap pilihan politik Jokowi.

Latar belakang sebagai Panglima TNI menjadi keunggulan figur Gatot bila disejajarkan dengan figur lainnya yang muncul. Khusus figur AHY kendati berlatar belakang militer, tentu tidak bisa disejajarkan dengan Gatot dari sisi jam terbang dan reputasi di bidang kemiliterannya.

Dua nama nominator suksesor Jokowi yang potensial mampu menandingi ketokohan Jokowi ini terkendala pada urusan partai politik pengusung serta logistik yang dimiliki dalam rangka kontestasi politik di Pilpres 2019 mendatang.

Kendala tersebut dapat diatasi jika ada kesepamahan politik di antara partai politik yang belum tergabung dalam barisan koalisi Jokowi. Sejumlah partai yang hingga saat ini belum memutuskan bergabung dengan koalisi Jokowi seperti Partai Gerindra, PKS, PAN, PKB dan Partai Demokrat. Jika kelima partai ini memiliki pemahaman yang sama dalam merumuskan persoalan bangsa sekaligus jalan keluarnya, sebaiknya partai politik ini bersatu menyusun barisan melawan Jokowi.

Soal siapa figur yang dinominasikan sebagai capres dan figur yang dinominasikan sebagai cawapres, tinggal dirembug dan diperhatikan dari sisi keterpilihan di publik. Faktor keterpilihan menjadi cukup urgen mengingat figur yang dilawan merupakan kandidat petahana yang memiliki berbagai sumberdaya. Selain itu, faktor dukungan logistik juga tak kalah penting jika berkeinginan menggusur Jokowi dalam Pilpres 2019 mendatang.

Komentar

Embed Widget

x