Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 00:34 WIB
 

Kotak Kosong Menang, Siapa Yang Harus Disalahkan?

Oleh : Ivan Setyadhi | Sabtu, 30 Juni 2018 | 04:17 WIB
Kotak Kosong Menang, Siapa Yang Harus Disalahkan?
Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraini - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sentimen negatif mengiringi kemenangan kotak kosong di sejumlah daerah pemilihan dalam pilkada serentak 171 daerah kemarin.

Partai politik dianggap tak mampu memunculkan kader terbaiknya untuk berkompetisi menjadi kepala daerah.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraini menyebut fenomena kemenangan kotak kosong merupakan salah partai politik.

"Kalau ingin benar-benar menghargai rakyat, jalankan fungsi parpol untuk melakukan rekrutmen politik secara demokratis. Perhatikan suara rakyat dengan apa yang dikehendaki oleh rakyat dan jangan mengusung figur-figur atau calon yang tidak mencerminkan kehendak atau kebutuhan rakyat," katanya kepada INILAHCOM, Jumat (29/6/2018).

Jangan justru kata Titi, kesalahan diarahkan kepada masyarakat yang memilih kotak kosong. Atau bahkan kemenangan kotak kosong justru merugikan negara.

"Kalau kita menganggap kemenangan kotak kosong merugikan keuangan negara karena terpaksa melakukan pilkada berkali-kali, sesungguhnya beban itu tidak bisa dibebankan kepada masyarakat. Tentu beban ini harus kita bebankan kepada parpol, misalnya karena kotak kosong menang kemudian pilkadanya harus diulang, ya karena parpol membangun skenario menegasikan melalui pilkada dengan mengusung calon tunggal," bebernya.

Parpol sambung Titi, harus ingat akan fungsinya melahirkan kader-kader terbaik untuk menjadi pemimpin bangsa. Sehingga rakyat bisa memilih dan punya banyak pilihan untuk menyalurkan suara dan aspirasi politiknya.

"Jangan sampai karena alasan cost, biaya penyelenggaraan pilkada, kita memaksakan kemenangan calon tunggal padahal calon tunggal itu tidak dikehendaki oleh rakyat. Nah ini menjadi pembelajaran, kalau ingin sebuah proses kompetisi yang fair play, demokratis, maka parpol ayo jalankan fungsinya sebagai institusi kader terbaik utnuk maju di pilkada," ungkapnya.

Berdasarkan data KPU, setidaknya terdapat 11 kabupaten/kota lain yang juga memiliki satu pasangan atau calon tunggal. Ke-11 daerah itu: Kota Prabumulih (Sumatera Selatan), Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang (Banten), Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), Kabupaten Enrekang (Sulawesi Selatan), Kabupaten Minahasa Tenggara (Sulawesi Utara), Kabupaten Tapin (Kalimantan Selatan), Kabupaten Mamasa (Sulawesi Barat), Kabupaten Jayawijaya (Papua), dan Kabupaten Padang Lawas Utara (Sumatera Utara). Kandidat di daerah-daerah ini adalah petahana, berbeda dengan Kota Makassar.[Ivs]

Komentar

x