Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 26 September 2018 | 12:54 WIB

Anomali Kemenangan Kotak Kosong

Oleh : Ivan Setyadhi | Jumat, 29 Juni 2018 | 03:16 WIB

Berita Terkait

Anomali Kemenangan Kotak Kosong
Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraini - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pilkada serentak 171 daerah kemarin meninggalkan sebuah fenomena. Dibeberapa daerah pemilihan, kotak kosong keluar menjadi pemenang mengalahkan calon tunggal.

Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi ( Perludem) Titi Anggraini melihat fenomena calon tunggal dalam pilkada di Indonesia merupakan sebuah anomali.

"Karena biasanya dalam praktek global calon tunggal itu terjadi di daerah-daerah yang daerah pemilihannya kecil, pemilihnya sedikit, sehingga parpol merasa tidak terlalu terganggu bila tak punya calon dan kemudian bermasalah eksistensinya," katanya kepada INILAHCOM, Kamis (28/6/2018).

Karena parpol melihat mengusung calon di daerah pemilihan kecil, sambung Titi, tak akan berpengaruh banyak bagi elektabilitas partai. Sedang pada pelaksanaan pilkada kemarin, sejumlah daerah mencatat kemenangan kotak kosong terjadi didaerah yang pemilihnya besar.

"Contoh Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kota Makassar, Prabumulih, lalu Deli Serdang, Padang Lawas Utara, Mamasa, Enrekang, Pasuruan. Itukan daerah-daerah besar, termasuk pemilihnya banyak," ungkapnya.

Di Kabupaten Tangerang pemilihnya lebih dari 2 juta, lalu di Kota Tangerang pemilihnya lebih dari 1 juta. Di Lebak pemilihanya lebih dari 900 ribu."Di Kota Makassar pemilihnya juga besar sekali," cetusnya.

Berdasarkan data KPU, setidaknya terdapat 11 kabupaten/kota lain yang juga memiliki satu pasangan atau calon tunggal. Ke-11 daerah itu: Kota Prabumulih (Sumatera Selatan), Kabupaten Lebak, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang (Banten), Kabupaten Pasuruan (Jawa Timur), Kabupaten Enrekang (Sulawesi Selatan), Kabupaten Minahasa Tenggara (Sulawesi Utara), Kabupaten Tapin (Kalimantan Selatan), Kabupaten Mamasa (Sulawesi Barat), Kabupaten Jayawijaya (Papua), dan Kabupaten Padang Lawas Utara (Sumatera Utara). Kandidat di daerah-daerah ini adalah petahana, berbeda dengan Kota Makassar.

"Partai tentu bermasalah jika mereka tidak punya calon, karena partai adalah insitusi yang menjadi kanal atau hulu bagi kaderisasi dan rekrutmen kader dalam sistem demokratis," tandasnya.[Ivs].

Komentar

x