Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 13:59 WIB

Polisi ini Raih Doktor Ilmu Kepolisian Pertama

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Senin, 11 Juni 2018 | 02:15 WIB

Berita Terkait

Polisi ini Raih Doktor Ilmu Kepolisian Pertama
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Perwira Menengah (Pamen) Polri, Kompol Ahrie Sonta meraih gelar promosi pertamaProgram Pascasarjana Doktoral Ilmu Kepolisian pada Kamis (7/6/2018).
"Alhamdulillah, saya baru selesai selama 3 tahun ini sekolah mendapat beasiswa dari Polri, sekolah untuk S3. Saya ambil tentang filsafat budaya etika. Jadi, disertasinya Model Penguatan Budaya Etika di Kepolisian Tingkat Resor: Suatu Pendekatan Habitus Pierre Bourdieu," kata Ahrie di Jakarta, Minggu (10/6/2018).
Pria lulusan Akpol 2002 ini menjelaskan penelitian disertasinya membangun formula reformasi budaya (kultural) dalam organisasi kepolisian, khususnya di kepolisian tingkat resor sebagai basic police unit yang berhadapan langsungdengan pelayanan masyarakat.

Bagi Polri, kata Ahrie, perubahan budayamerupakan suatu keniscayaan, yakni sebagai bagian darireformasikepolisian pasca pemisahan denganmiliter (ABRI pada masa Orde Baru)sebagaimana tertuang dalam Inpres Nomor 2 tahun1999.

"Reformasi Kepolisian itu sendiri secara lengkapnya mencakup reformasi struktural, instrumental, dan kultural. Sejauh ini, reformasi struktural dan instrumentaldinilai telahberhasil," ujarnya.

Namun, Ahrie menilaireformasi kultural masihmenjadisuatu persoalan yangdihadapi kepolisian Indonesia. Menurut dia, yang membedakannya dari reformasi birokrasi kepolisian yang telah berhasildilakukandi negara-negara lain.

"Adapunnegara-negara yang telah berhasil mengatasi masalah kultural ini misalnya Singapura, Hongkongdan kepolisian di New South Wales Australia," jelas dia.

Ia mengatakan untuk implementasi dari penelitian tersebut ada tiga model yang ditemukan di beberapa kepolisian tingkat resor yang dimaknai penguatan budaya etika, yakni model penguatan etika publik, penguatan struktur pengawasan dan penguatan sosialisasi nilai.

"Saya membangun modelpenguatan budaya etika kepolisian dengan pendekatan habitus, kemudian membedahkultural dengan mempertemukanagen (individu)danstruktur.Banyak penelitiansebelumnyajustru mempertentangkan agen dan struktur," katanya.

Menurut dia,teori habitusiniberusaha melampaui pertentangan agen-struktur, kebebasan-determinisme, individu-masyarakat, dan seterusnya termasuk dalam konteks organisasi kepolisian.

"Melalui pembacaankonsep habitusini puladapat terlihat jalan tengah untuk menyatukan pemisahan struktur dan agen dalam menjelaskan tindakan manusia, atau disebut pendekatan strukturalisme-genetik," katanya.

Di samping itu, Ahrie mengatakan solusi yang didapatkan dari penelitian ini adalah program salute to service yang bisadiselenggarakan oleh pemerintah, pihak swasta atau perusahaan, atau komunitas masyarakat. Yakni, sebagai simbol rasa terima kasih kepada lembagakepolisianyang telah menyumbang peranan penting di masyarakat.

"Hal ini membangun hubungan civil society antara kepolisian dan masyarakatsecaralebih baik, sehinggaadakontrol positif masyarakat terhadap potensi tindakan negatif yang dilakukan oleh oknum anggota polisi," katanya.

Sementaracendekiawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Hermawan Sulistyo mengatakan adanya doktor ilmu kepolisian ini harusnya menjaditonggaksejarah baru bagi institusi kepolisian.

"Produk doktor pertama ilmu kepolisian ini bisa menjadi rolemodel polisi masa depan. Pengetahuan dan integritas akademikyangdipadukandengankemampuan teknis operasional lapangan akan membuat Dr.Ahrie Sonta menjadi model polisi masa depan," katanya. [wll]

Komentar

Embed Widget
x