Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 14:54 WIB

UGM Nonaktifkan Dua Dosennya Terkait HTI

Oleh : Ivan Setyadhi | Minggu, 10 Juni 2018 | 12:08 WIB

Berita Terkait

UGM Nonaktifkan Dua Dosennya Terkait HTI
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Yogyakarta - Universtias Gadjah Mada (UGM) menonaktifkan dua dosennya karena diduga kuat terkait dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

UGM menonaktifkan, keduanya dari jabatan struktural setelah sebelumnya dipanggil rektor dan dekan untuk mengetahui cara pandang mereka mengenai Pancasila. Bahkan, keduanya terancam dipecat jika tidak mau kembali ke ideologi Pancasila.

"Kemarin hanya dialog, belum sidang atau pemeriksaan, nanti selanjutnya di DKU itu. Hasil pemeriksaan DKU yang menjadi rekomendasi untuk rektor menentukan langkah selanjutnya. Hasilnya secepatnya karena proses terhenti dengan adanya libur panjang. Mungkin diproses setelah Lebaran," kata Kepala Bagian Humas Dan Protokol UGM Iva Ariani.

Salah satu dosen yang dinonaktifkan menjabat kepala program studi dan seorang lagi menjabat kepala laboratorium.

Iva Ariani menyatakan, dari hasil pertemuan yang juga diikuti Dewan Guru Besar dan perwakilan Senat Akademik UGM, maka diputuskan jika proses selanjutnya diserahkan ke Dewan Kehormatan Universitas (DKU).

Hasil rekomendasi DKU tersebut nantinya akan menjadi panduan bagi universitas untuk melakukan tindakan selanjutnya. Sambil menunggu rekomendasi itu, kedua dosen dinonaktifkan untuk sementara dari jabatan strukturalnya.

Namun, Iva enggan menjelaskan secara rinci nama maupun inisial kedua dosen tersebut. Iva mengatakan, jika dari hasil pemeriksaan DKU nanti menyebutkan keduanya terbukti tidak menerima Pancasila sebagai ideologi negara, maka keduanya bisa dikenakan sanksi.

"Saya belum bisa menyampaikan. Kalau sanksi tentu akan mengikuti aturan PNS, bisa berupa sanksi teguran. Menurut aturan kepegawaian sanksi beratnya juga bisa dikeluarkan, tapi kami berharap tidak sampai seperti itu," urai Iva.

Data dua dosen Fakultas Teknik UGM yang diduga anti-Pancasila itu sebelumnya diperoleh UGM dari Badan Intelijen Negara (BIN) dan informasi dari rekan dosen yang lain.[ivs].

Komentar

Embed Widget
x