Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 21 Agustus 2018 | 10:06 WIB

Prospek Koalisi Keumatan ala Habib Rizieq Shihab

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 4 Juni 2018 | 20:59 WIB
Prospek Koalisi Keumatan ala Habib Rizieq Shihab
Prabowo Subianto dan Habib Rizieq Sihab (HRS) - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pertemuan Amien Rais, Prabowo Subianto dan Habib Rizieq Sihab (HRS) di Mekah, menghasilkan gagasan "Koalisi Keumatan". Usulan yang muncul dari Habib Rizieq itu bak gayung bersambut di Tanah Air. Inikah sinyal kebangkitan Islam politik?

Pamor HRS masih bersinar. Kendati fisik hampir setahun di Arab Saudi, namun kharisma politiknya semakin kukuh. Setidaknya, itu pula yang tampak dari pertemuan Amien Rais dan Prabowo Subianto saat berkunjung ke kediaman HRS di Mekah.

HRS di depan Amien Rais dan Prabowo Subianto mendorong koalisi keumatan dalam Pemilu 2019 mendatang berkumpulnya Partai Gerindra, PAN, PKS dan PBB. Koalisi ini dimaksudkan untuk membangun persatuan umat Islam yang terinspirasi dari aksi 212

"Tujuan persatuan umat Islam yang sudah terbangun dalam spirit 212 tetap terjaga dengan baik sehingga akan berdampak pada kemenangan di Pilkada serentak 2018, Pileg dan Pilpres 2019," kata Ketua Umum Persaudaran Alumni 212 Slamet Maarif dalam siaran persnya.

Dorongan Habib Rizieq untuk membangun kekuatan politik yang berbasis keumatan direspons positif oleh sejumlah partai politik yang memang sejak awal membuat blok politik berbeda dengan pemerintahan Jokowi. Apalagi, HRS menggarisbawahi soal memori kolektif aksi 212 yang tercatat merupakan aksi massa terbesar pascareformasi.

Dari sisi nama koalisi ini sentimen keislamannya cukup dominan. Berbeda dengan koalisi yang dibangun dalam Pemilu 2014 lalu, kelompok ini menamakan dirinya dengan Koalisi Merah Putih (KMP). Dari sisi nama, KMP tidak terasosiasi secara langsung maupun tidak langsung pada kelompok Islam. Eksperimentasi politik dalam Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu, bisa saja menjadi inspirasi politik bagi koalisi ini.

Dari sisi proyeksi keberlangsungan koalisi ini bisa jadi akan terkendala soal figur yang diusung dalam Pilpres 2019 mendatang. Figur Prabowo Subianto yang digadang-gadang koalisi ini juga belum ada jaminan akan maju. Setidaknya, elektabilitas Prabowo hingga saat ini masih terpaut jauh oleh kandidat petahana, Jokowi.

Selain itu, figur calon wakil presiden juga tak kalah pelik dalam koalisi ini. Setidaknya sejumlah figur menonjol di koalisi ini akan menyulitkan siapa figur yang layak untuk duduk di kursi Wakil Presiden.

Di atas semua itu, jika koalisi ini benar-benar terbentuk dalam Pilpres 2019 mendatang, ini semakin mengukuhkan figuritas HRS. Kepemimpinan populis yang dilakukan Habib Rizieq Shihab nyatanya mampu memobolisasi kekuatan massa secara masif dalam aksi 212 lalu. Sukses aksi tersebut tentu menjadi modal penting bagi kekuatan politik ini.

Di samping itu pula faktor eksternal yang tak lain performa pemerintahan Jokowi yang dinilai tidak sedikit orang kerap melakukan blunder politik. Tanda pagar #GantiPresiden2019 dimaknai sebagai bentuk perlawanan terhadap kandidat petahana.

Komentar

x