Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 12:43 WIB

Ahli Jelaskan Pasal 21 di Sidang Fredrich

Oleh : Ivan Setyadhi | Kamis, 17 Mei 2018 | 18:30 WIB

Berita Terkait

Ahli Jelaskan Pasal 21 di Sidang Fredrich
Fredrich Yunadi - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Ahli hukum pidana dari Universitas Al Ahzar Suparji menyebut bahwa pembuktian pelanggaran pasal 21 perlu menunjukkan akibatnya.

Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal tersebut mengatur tentang perbuatan mencegah, merintangi, atau menggagalkan secara langsung atau tidak langsung penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap tersangka dan terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi.

"Karena ini delik materil, maka perlu mendapatkan akibatnya dulu," ujar Suparji saat dihadirkan dalam persidangan Fredrich Yunadi di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (17/5/2018).

Menurut Suparji, Pasal 21 tersebut termasuk dalam kualifikasi delik materil. Dengan demikian, suatu perbuatan dapat dikatakan termasuk dalam kualifikasi Pasal 21 apabila sudah ada akibatnya.

Seseorang yang didakwa dengan Pasal 21, akibat dari perbuatannya harus nyata, jelas dan terukur. Menurut dia, apabila perbuatan seseorang tidak menimbulkan akibat terhalangnya proses hukum, maka tidak dapat dikenai sanksi pidana.

"Misalnya seseorang membawa kabur tersangka sehingga penyidikan menjadi tidak ada. Jadi, mencegah, menggagalkan itu juga harus ada akibatnya," kata Suparji.

Dalam kasus ini, Fredrich didakwa bersama-sama dengan dokter Bimanesh Sutarjo telah melakukan rekayasa agar Setya Novanto dirawat di Rumah Sakit Medika Permata Hijau. Hal itu dalam rangka menghindari pemeriksaan oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). [ton]

Komentar

Embed Widget
x