Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 22 Oktober 2018 | 18:21 WIB

RUU Pengendalian Minol Harus Segera Diketuk

Oleh : Ajat M Fajar | Rabu, 16 Mei 2018 | 14:20 WIB

Berita Terkait

RUU Pengendalian Minol Harus Segera Diketuk
Ketua Harian YLKI Tulus Abadi - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Ketua Harian YLKI Tulus Abadi menyatakan, pihaknya sangat prihatin dengan maraknya korban jiwa yang hilang karena menenggak minuman keras oplosan.

Menurut Tulus, penyebab banyaknya masyarakat yang mengkonsumsi minuman oplosan adalah minuman alkohol legal.

Ia meyakini, masyarakat yang mengkonsumsi minuman oplosan dikarenakan mereka sebelumnya sudah terbiasa dengan minuman alkohol legal yang biasanya mudah didapatkan di toko-toko swalayan atau toko ritel lainnya.

"Jadi menurut saya pemerintah harus segera menyelesaikan RUU Minol yang sudah lama mandek ini. RUU Minol harus ketat dalam mengatur minuman alkohol di Indonesia," kata Tulus saat menjadi pemateri di diskusi tentang 'Perlindungan Masyarakat dan Kepastian Hukum Dalam RUU Minol' di Lakpesdam PWNU DKI Jakarta.

Dalam kesempatan yang sama, Praktisi Hukum UIN Jakarta, Irfan Fahmi mengatakan, RUU Minol tidak dapat menjadi jaminan atas peredaran minuman oplosan yang saat ini marak di tengah-tengah masyarakat.
Menurut Irfan, mengatasi peredaran minuman oplosan yang membahayakan itu harus melibatkan seluruh stakeholder yang ada.

"Masalah oplosan itu bukan masalah RUU Minol. Saya melihat kita ini sudah dalam kondisi darurat oplosan, jadi penanganannya juga harus melibatkan banyak pihak. Yaa pihak sekolah, orangtua, aparat penegak hukum, dan lain sebagainya," kata Irfan.

Lebih jauh ia katakan, jika pengetatan minuman alkohol dilakukan dalam RUU Minol, maka tidak tertutup kemungkinan minuman oplosan itu juga akan lebih mudah didapatkan. "Karena mereka yang biasanya meminum minuman alkohol, kalau minuman alkohol itu sulit didapat, maka orang bisa lari ke oplosan," ujarnya.

Menurut dia, persoalan yang paling mendasar adalah bagaimana pemerintah dapat mengendalikan minuman alkohol dan melakukan pengawasan dengan ketat.

Ia mencontohkan, di sejumlah negara maju lainnya, seperti Singapura dan Amerika, tidak mudah untuk orang dibawah umur bisa mendapatkan minuman alkohol. Jika dibandingkan di Indonesia, pengawasan serta pengetatan regulasi agar anak dibawah umur mendapatkan minuman alkohol masih sangat jauh dari harapan.

"Di Indonesia itu semuanya sangat mudah didapat. Anak dibawah umur itu dengan mudah beli minuman alkohol di supermarket atau di cafe-cafe. Nah, pengendalian ini yang kita butuhkan sebenarnya," kata Irfan.

Sementara itu, Ketua Lakpesdam PWNU DKI Jakarta, Muhammad Shodri mengatakan, pihaknya akhir tahun lalu sudah melakukan penelitian di Jabodetabek. Survei yang dilakukan oleh Lakpesdam PWNU melibatkan sekita 380 responden dengan batas usia remaja atau dibawah usia 21 tahun.

"Ini hasilnya cukup mengagetkan, dari survei yang kami lakukan, sekitar 27.5 persen mengaku pernah mengkonsumsi minuman alkohol. Dan ketika kita brekdown lagi dari yang 27.5 persen itu, ternyata 65 persen anak usia dibawah remaja itu mengaku pernah mengkonsumsi minuman alkohol," kata Muhammad Shodri.

Dalam survei itu, lanjut Shodri, setidaknya ada dua alasan yang menyebabkan para remaja itu mengkonsumsi minuman oplosan, pertama karena harga minuman oplosan itu lebih murah dibandingkan minuman legal. Kedua, karena lebih mudah didapat.

"Mereka itu dapat dengan sangat mudah, mereka dapat di warung-warung jamu, warung kelontong, dan lain sebagainya. Nah, ini yang harus kita jawab bersama. Jadi RUU Minol yang saat ini tengah digodok di DPR, kita harapkan dapat menjawab persoalan-persoalan ini," tutupnya.[jat]

Komentar

Embed Widget
x