Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 12 Desember 2018 | 20:38 WIB

Sebut Bom Pengalihan Isu, Wanita ini Ditangkap

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Senin, 14 Mei 2018 | 20:06 WIB

Berita Terkait

Sebut Bom Pengalihan Isu, Wanita ini Ditangkap
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Polisi menangkap seorang perempuan berinisial FSA. Perempuan tersebut diamankan lantaran menyebut bom yang terjadi di Surabaya adalah pengalihan isu pemerintah.

"Ya, benar. Kami amankan yang bersangkutan," kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Nanang Purnomo saat dikonfirmasi, Senin (14/5/2018).

FSA ditangkap di sebuah rumah kos, Jl Sungai Mengkuang, Desa Pangkalan Buton, Sukadana, Kayong Utara, Kalimantan Barat pada Minggu (13/5) pukul 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara. Saat ini FSA masih menjalani pemeriksaan di Polda Kalbar.

"Saat ini yang bersangkutan masih diperiksa. Kasusnya akan ditangani Polda Kalbar," ujar Nanang.

FSA melalui akun Facebooknya menulis status analisisnya, yaitu tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

"Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong... Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!" tulis FSA dikutip dari akun Facebook FSA.

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

"Bukannya 'terorisnya' sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan, red)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin drama kedua," tulis FSA dalam akun Facebooknya.

Atas perbuatannya, FSA diancam dengan Pasal 28 ayat (2) UU Informasi dan Transaksi Elektronik. "Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA)," jelas Nanang. [ton]

Komentar

Embed Widget
x