Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 28 Mei 2018 | 16:22 WIB
 

MUI Nilai Masih Banyak Salahartikan Jihad

Oleh : Ray Muhammad | Jumat, 11 Mei 2018 | 18:58 WIB
MUI Nilai Masih Banyak Salahartikan Jihad
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Banten - Ketua MUI Maruf Amin mengungkapkan bahwa Afghanistan memang sengaja meminta bantuan kepada Indonesia untuk membantu proses perdamaian atas konflik yang terjadi di sana.

Demikian disampaikan Ketua MUI saat memberikan sambutannya dalam Peringatan Harlah Yayasan Al-Khairiyah ke-93 bersama Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Auditorium PB Al Khairiyah Citangkil, Cilegon, Banten, Jumat (11/5/2018).

"Kenapa mereka minta kita? Ini karena Indonesia dianggap walaupun kemajemukannya tinggi, agama dan etnisnya banyak, aliran organisasi Islam ada 79 dan ada yang keras ada juga yang lunak. Untung ada MUI yang berusaha mengelola ormas yang keras bisa dilunakan dan yang lunak dikeraskan hingga sedang," papar Maruf.

Dia mengaku baru kali ini mengenal sosok presiden yang amat mencintai umat, santri dan ulama seperti sosok Jokowi. "Mari kita doakan beliau terus sehat bekerja dan terus menyelesaikan berbagai hal, baik nasional maupun international," ucapnya.

Lebih jauh, dia mengaku sempat mengeyam pendidikan di Yayasan Al-Khairiyah walaupun tidak lama. Dirinya mengaku menempuh pendidikan di sana selain menimba ilmu juga mencari berkah.

"Alhamdulillah, berkahnya jadi ketua MUI padahal ilmu saya biasa saja. Pesantren memang mengajarkan, orang-orang paham agama. Oleh karena itu, fardhu kifayah. Menyiapkan ilmu syariah, orang yang menguasai fiqih hadits tafsir. Jadi melahirkan ulama," katanya.

Pada kesempatan ini, Maruf pun menyampaikan pentingnya semangat jihad untuk membela serta menjaga kemerdekaan bangsa dan negara.

"Indonesia merdeka itu bukan hadiah, tapi hasil perjuangan. Karena itu harus kita jaga negara ini. Negara ini sudah diberikan landasannya untuk para pendiri bangsa sehingga kita tidan perlu berdebat lagi mencari dasar negara. Dibangun di atas kesepakatan. Jadi, negara ini kuat sekali," ungkapnya.

Maruf pun menilai belakangan ini banyak pihak yang keliru dalam memahami makna jihad. Menurutnya, jihad di era modern tak melulu menyangkut soal peperangan.

"Kalau dulu memerangi Belanda untuk mengusirnya, sekarang negara ini bukan negara perang. Memang Indonesia negara daarul Islam, tapi bukan negara kafir dan bukan negara perang. Ini negara kesepakatan. Oleh karena itu, tidak boleh ada perang lagi di Indonesia," jelasnya.

Jika zaman dulu jihad dimaknai dalam bentuk memerangi musuh penjajah, seperti Belanda, maka saat ini bisa diartikan memperbaiki taraf hidup negara.

"Sekarang ini harus diartikan perbaikan di semua aspek mulai dari pendidikan dan ekonomi. Kita lanjutkan semangat K.H Syamun. Jihad sekarang bukan mengangkat senjata, tali melakukan perbaikan-perbaikan," pungkasnya. [ton]

Komentar

 
Embed Widget

x