Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 20 November 2018 | 15:51 WIB

Mahathir Effect, Menular ke Indonesia?

Oleh : R Ferdian Andi R | Jumat, 11 Mei 2018 | 01:15 WIB

Berita Terkait

Mahathir Effect, Menular ke Indonesia?
Mahathir Mohammad - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Kemenangan koalisi oposisi dalam Pemilu Malaysia yang membuka jalan Mahathir Mohammad untuk duduk kembali di kursi Perdana Menteri, menjadi buah bibir para politisi di Indonesia. Akankah fenomena Mahathir ini menular ke Indonesia?

Kemenangan koalisi Pakatan Harapan yang terdiri dari empar partai politik di Malaysia memenangi pemilihan umum (Pemilu) pada Rabu (9/5/2018) malam waktu setempat. Keempat partai yang tergabung dalam koalisi oposisi itu yakni Partai Tindakan Demokratik (DAP), Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Amanah Negara (PAN) serta Partai Pribumi Bersatu Malaysia (PPBM).

Kemenangan kelompok oposisi di Malaysia itu menjadi perbincangan hangat masyarakat Indonesia. Situasi politik di Malaysia dapat menjadi tolak ukur bagi politik di Tanah Air. Koalisi Barisan Nasional yang telah berkuasa sejak kemerdekaan Malaysia bisa tumbang oleh kelompok oposisi yang menempatkan Mahathir sebagai ikon perjuangan kelompok ini.

Terlebih, isu populis yang yang dikampanyekan kelompok oposisi ini memiliki irisan kesamaan dengan isu domestik di tanah air seperti sentimen negatif publik tanah air atas investasi China ke Indonesia dengan persoalan tenaga kerja asing (TKA) yang belakangan menjadi sorotan publik.

Sebagaimana ditulis Reuters, Kamis (10/5/2018), Mahathir menyebutkan akan melakukan negosiasi ulang atas kesepakatan pemerintahan Najib dengan pemerintah China melalui Belt and Road Initiative (BRI). Malaysia disebut telah menerima proyek pembangunan infrastruktur melalui investasi China sebesar USD 34,2 miliar. Akibatnya, tudingan para kritikus yang menyebut PM Najib "menjual" Malaysia ke China.

Sentimen ini pula yang menjadikan salah satu faktor kemenangan bagi kelompok oposisi dalam Pemilu ke-14 di Malaysia itu. Di samping juga tudingan korupsi yang dikaitkan kepada PM Najib Razak juga menjadi isu panas yang menimpa kandidat petahana itu.

Kemenangan Mahathir juga membuka sisi lain soal peran politisi senior yang sukses dalam pemilu di Malaysia. Mahathir telah mengejutkan politik domestik di Malaysia termasuk bagi publik Indoensia. Ia telah menjadi mantan Perdana Menteri Malaysia selama 22 tahun lamanya.

Kemenangan Mahathir ini juga bisa saja menjadi inspirasi bagi politisi senior di Tanah Air untuk terjun kembali dalam gelanggang politik nasional. Seperti soal posisi Jusuf Kalla yang masih banyak disebut memiliki kans dalam Pemilu 2019 mendatang. JK memang terhambat secara konstitusional untuk menduduki kursi kembali Wakil Presiden.

Namun untuk kursi Presiden, bagi JK tidak ada hambatan untuk maju dalam Pilpres 2019 mendatang. Selama ini, bekas Ketua Umum Partai Golkar ini belum pernah menjabat sebagai Presiden. Kemenangan Mahathir di usia sepuh, bisa saja menginspirasi bagi JK untuk maju kedua kalinya sebagai Capres seperti pada tahun 2009 lalu. [*]

Komentar

Embed Widget
x