Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 15 Agustus 2018 | 16:52 WIB

Jaksa Tuntut Penyuap Bupati Rita 4,5 tahun Penjara

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Senin, 7 Mei 2018 | 17:27 WIB
Jaksa Tuntut Penyuap Bupati Rita 4,5 tahun Penjara
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Sawit Golden Prima (SGP) Hery Susanto Gun alias Abun dituntut 4,5 tahun penjara oleh Jaksa KPK. Abun disebut telah terbukti menyuap Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari.

"Menuntut supaya majelis hakim memutuskan menyatakan terdakwa Hery Susanto Gun terbukti secara meyakinkan bersalah melakukan korupsi," kata jaksa KPK Dame Maria Silaban saat membacakan surat tuntutannya di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

"Menjatuhkan pidana oleh karenanya terhadap terdakwa dengan pidana penjara selama 4 tahun 6 bulan, dan denda sebesar Rp 250 juta subsider 6 bulan penjara," sambung dia.

Jaksa menyatakan Abun terbukti memberikan uang suap Rp 6 miliar ke Rita Widyasari. Uang suap tersebut terkait pemberian izin lokasi perkebunan sawit di Desa Kupang Baru, Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kukar.

Uang itu kata Jaksa disetorkan Abun sebagai terima kasih karena telah menerbitkan izin perkebunan sawit untuk perusahaannya, PT Sawit Golden Prima.

"Terdakwa Hery Susanto Gun alias Abun memberikan uang Rp 6 miliar kepada pegawai penyelenggara atau penyelenggara negara Rita Widyasari selaku Bupati Kutai Kartanegara," terang jaksa.

"Sebagai kompensasi atas izin lokasi yang telah diterbitkan, terdakwa memberikan uang kepada Rita Widyasari seluruhnya sebesar Rp 6 miliar melalui rekening bank Mandiri KCP Tenggarong," sambung jaksa.

Jaksa juga mengatakan bahwa Abun tak kooperatif saat memberikan keterangan dalam sidang. Keterangan yang paling disorot yakni soal emas.

"Rita Widyasari dalam persidangan merangkan transfer uang kepada terdakwa pada 22 Juli 2010 dan tanggal 5 Agustus 2010 seluruhnya sebesar Rp 6 miliar tersebut merupakan jual beli emas seberat 15 kg, yang mana uangnya dipergunakan untuk membeli rumah dan untuk menutup pengeluaran saat pilkada, sementara terdakwa menerangkan bahwa trasnfer uang tersebut merupakan pinjaman kepada Rita Widyasari dengan jaminan emas batangan seberat 25 kg dengan syarat bilamana dalam waktu 6 bulan tidak dibayar maka emas akan menjadi milik terdakwa," jelas jaksa.

"Bahwa keterangan terdakwa dan Rita Widyasari tersebut tidak benar dan haruslah dikesampingkan, dengan alasan bahwa Rita Widyasari menerima transfer dari terdakwa pada 22 Juli 2010 sebesar Rp 1 miliar dan 5 Agustus 2010 sebesar Rp 5 miliar sehingga totalnya Rp 6 miliar ternyata sesuai bukti rekening koran tidak dipergunakan oleh Rita untuk membeli rumah tetapi dipergunakan untuk keperluan belanja pribadinya. Demikian pula keterangan terdakwa bahwa akan mengembalikan emas bilamana dalam waktu sebelum 6 bulan Rita Widyasari mengembalikan pinjaman. Namun ternyata meski telah ada pengembalian uang pada Desember 2010 terdakwa tidak mengembalikan emas itu," sambung Jaksa.

Jaksa mengatakan hal-hal yang meringankan terdakwa adalah berlaku sopan selama di persidangan. Sementara hal yang memberatkan adalah tidak mendukung program pemerintah memberantas korupsi dan memberikan keterangan yang berbelit-belit. [ton]

Komentar

x