Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 21 Mei 2018 | 23:57 WIB
 

Jaksa Hadirkan Penyidik KPK

Fredrich: Saksi dari JPU Tak Menguntungkan Saya



Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Senin, 7 Mei 2018 | 14:04 WIB
Fredrich: Saksi dari JPU Tak Menguntungkan Saya


(Foto: Inilahcom/Agus Priatna)

INILAHCOM, Jakarta - Jaksa penuntut umum (JPU) Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menghadirkan penyidik KPK Kompol Rizka Anung Nata untuk bersaksi di persidangan terdakwa merintangi penyidikan kasus korupsi e-KTP, Fredrich Yunadi.

Ia merupakan saksi yang tidak ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP) perkara tersebut. Ia dihadirkan karena saksi yang ada di dalam BAP sudah selesai. Selain itu, Jaksa KPK juga akan menghadirkan saksi ahli yakni Prof Akmal dalam perkara yang melilit mantan pengacara Setya Novanto tersebut.

"Saksi di luar berkas yang mulai, dalam hal ini penyidik Rizka. Saksi fakta. Maksudnya saksi tambahan," kata Jaksa Roy Riyadi sebelum dimulainya persidangan, Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta Pusat, Senin (7/5/2018).

Mendengar hal tersebut, terdakwa Fredrich menggap aneh lantaran seluruh saksi yang di BAP disebut belum dihadirkan. Bahkan Fredrich menginginkan agar jaksa KPK dapat mengahdirkan ajudan Novanto, Reza Fahlevi.

"Saya mau menghadirkan ajudan Pak Setya Novanto, tapi ia susah karena harus minta izin Kapolri, tapi Kapolri mungkin tidak mengizinkan, padahal saksi kunci," ucap Fredrich.

Fredrich menyebut saksi yang dihadirkan oleh Jaksa KPK tidak menguntungkan dirinya. Menurutnya, penyidik KPK bernama Rizka tidak pernah memeriksa dirinya.

"Rizka itu nggak pernah periksa saya sama sekali. Saksi-saksi yang menguntungkan kami sengaja tidak mau dipanggil, ini yang saya sangat keberatan jadi mohon yang mulia dalam hal ini dapat dipertimbangkan," tuturnya.

Dalam perkara ini, Fredrich Yunadi dan dokter RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutarjo didakwa oleh Jaksa KPK menghalangi atau merintangi proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek e-KTP, yang menyeret Setya Novanto. Keduanya diduga melakukan kesepakatan jahat untuk memanipulasi hasil rekam medis Novanto yang saat itu sedang diburu oleh KPK.

Atas perbuatannya, Bimanesh dan Fredrich didakwa melanggar Pasal 21 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.[jat]

Komentar

 
Embed Widget

x