Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 23 Oktober 2018 | 07:18 WIB

KPK Belum Tahu Perkembangan JC Fayakhun

Oleh : Ahmad Farhan Faris | Jumat, 27 April 2018 | 23:24 WIB

Berita Terkait

KPK Belum Tahu Perkembangan JC Fayakhun
Juru Bicara KPK, Febri Diansyah - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengaku belum mendapatkan informasi terkait permohonan Fayakhun Andriadi sebagai justice collaborator atas status tersangka kasus suap pengadaan satelit di Bakamla.

"Saya belum dapat informasi itu," kata Febri di Gedung KPK, Jumat (27/4/2018).

Menurut dia, jika memang tersangka Fayakhun ingin menjadi justice collaborator tentu harus siap dengan segala konsekuensinya untuk membuka keterlibatan aktor lain dalam perkara korupsi tersebut.

"Kalau tersangka atau terdakwa mengajukan JC, maka konseskuensinya yang harus sangat disadari membuka peran pihak lain secara luas dan secara signifikan," ujarnya.

Febri mengatakan, KPK menyambut baik jika Fayakhun Andriadi ingin menjadi justice collaborator. Namun KPK mengingatkan kepada Fayakhun untuk serius.

Untuk diketahui, Anggota Komisi I DPR RI Fayakhun Andriadi telah ditetapkan sebagai tersangka kasus suap pemulusan pembahasan anggaran proyek pengadaan alat satelit monitoring pada Bakamla tahun anggaran 2016.

Selain Fayakhun, KPK menduga masih ada sejumlah anggota DPR yang mengetahui atau ikut dalam proses pembahasan anggaran proyek pengadaan alat satelit monitoring pada Bakamla.

Fayakhun diduga menerima hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. Dia mendapatkan imbalan 1 persen dari proyek senilai Rp1,2 triliun atau sebesar Rp12 miliar.

Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar 300 ribu Dollar Amerika. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.

Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah melalui anak buahnya, M. Adami Okta. Uang itu diberikan sebanyak empat kali tahapan.

Selain itu, terdapat juga sejumlah nama anggota DPR yang disebut menerima suap terkait proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla. Yakni Politikus PDI Perjuangan TB. Hasanuddin dan Eva Sundari, Politikus Golkar Fayakhun Andriadi serta dua Politikus NasDem Bertus Merlas dan Donny Priambodo.

Hal tersebut terungkap ketika Direktur PT Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Darmawansyah bersaksi untuk terdakwa mantan pejabat Bakamla, Nofel Hasan, di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta beberapa waktu lalu.

Dalam kesaksiannya, Fahmi mengakui pernah memberikan uang sebesar Rp24 miliar atau enam persen dari nilai total proyek alat satmon Bakamla sebesar Rp400 miliar kepada Ali Fahmi alias Fahmi Habsyi selaku narasumber Bakamla.

Uang tersebut diduga telah disalurkan Ali Fahmi kepada sejumlah anggota DPR untuk meloloskan anggaran proyek Bakamla ini.

KPK telah lebih dulu menjerat sejumlah pihak yang diantara yakni, dua pejabat Bakamla, Nofel Hasan dan Eko Susilo Hadi, serta tiga petinggi PT Melati Technofo Indonesia, Fahmi Dharmawansyah, M. Adami Okta, dan Hardy Stefanus.[jat]

Komentar

Embed Widget
x