Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 18 Agustus 2018 | 14:21 WIB

Magnit Prabowo di 2019 Masih Lemah

Oleh : R Ferdian Andi R | Selasa, 17 April 2018 | 21:01 WIB
Magnit Prabowo di 2019 Masih Lemah
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Prabowo Subianto telah menyatakan siap menjalankan mandat partainya dalam Rapat Kordinasi Nasional (Rakornas). Namun, respons pasar terhadap figur Prabowo tidak antusias. Gerindra harus ada terobosan politik.

Gaung pencapresan Prabowo lemah. Setidaknya, respons publik di luar Partai Gerindra tak mengalami uforia atas pencalonan ini. Tidak sedikit yang menyebut, momentum politik Prabowo telah berakhir di Pemilu 2014 lalu. Bila pun memaksakan kehendak maju dalam Pilpres 2019, Prabowo bakal dengan mudah ditekuk calon petahana. Indikator sejumlah temuan riset politik, elektabilitas Prabowo tak mengalami grafik meningkat.

Situasi ini pula dibaca secara seksama oleh elit partai politik yang sejak awal memiliki kedekatan dengan Partai Gerindra. Politisi PKS Nasir Djamil misalnya meragukan rencana majunya Prabowo dalam Pilpres 2014 mendatang. Menurut dia, tiket yang dimiliki Prabowo bakal dialihkan ke tokoh lainnya yang tak lain mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. "Tiket itu akan diberikan ke orang lain," sebut Nasir seraya menyebut sosok Gatot Nurmantyo.

Meski tak merpresentasikan PKS, suara ini dapat menjadi indikator tidak bulatnya respons positif atas rencana majunya Prabowo Subianto dari kalangan partai koalisi. Hal ini berbalik arah dengan kelompok pendukung Jokowi yag justru gembira atas rencana majunya Prabowo.

"Kita lihat saja siapa yang riang gembira dan bertepuk tangan. Ternyata yang senang adalah geng Jokowi bukan koalisinya Prabowo," kata Pangi Syarwi Chaniago Direktur Eksekutif Voxpol Center Research and Consulting

Pangi menilai, pendukung Jokowi berharap dalam Pilpres 2018 mendatang terjadi head to head antara Prabowo dan Jokowi. Menurut dia, bila duel Jokowi versus Prabowo dalam Pilpres 2019 mendatang, akan memudahkan Jokowi mengalahkan Prabowo. "Jadi agenda setting geng Jokowi ini kelihatan sekali. Bagaimana caranya agar terulang kembali head to head Jokowi dengan Prabowo," sebut Pangi.

Dia menyebutkan sebaiknya Prabowo menjadi king maker seperti yang dilakukan Megawati saat Pemilu 2014 dengan menyerahkan mandat pencapresan ke Jokowi. Hal tersebut dapat diadopsi Prabowo Subianto dengan menjadi king maker dalam Pemilu 2019. Nama Gatot disebut bisa dipasangkan untuk melawan Jokowi. "Nama Gatot bisa dikatakan bisa menjadi sang penantang tangguh Jokowi," jelasnya.

Soal kekhawatiran sejumlah kader bila Prabowo tidak maju Capres akan mempengaruhi perolehan suara Gerindra, Pangi menyebutkan hal tersebut perlu diuji kembali di lapangan. Hanya saja, Pangi menyebutkan ada jalan tengah untuk mengatasi kekhawatiran tersebut. "Jalan tengahnya bisa saja dengan mengkaderkan atau meng-gerindra-kan Gatot dan Anies Baswedan sebagai capres atau cawapres justru kemungkinan bisa menyelamatkan elektabilitas Gerindra menjadi lebih besar," saran Pangi.

Terpisah Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon menepis anggapan jika ekektabilitas Prabowo tidak merangkak naik. Menurut dia, saat ini elektabilitas Jokowi meski tertinggi namun trennya menurun. Sebaliknya, elektabilitas Prabowo secara konsisten mengalami kenaikan. "Jadi peluang Pak Prabowo memang sangat tinggi," tepis Fadli.

Pendaftaran Capres/Cawapres akan dilakukan pada Agustus 2018 ini. Empat bulan ke depan dinamika politik tentu cukup dinamis. Tak terkecuali soal mandat politik Gerindra kepada Prabowo. Namun dapat dipastikan, Pilkada serentak 2018 mendatang pada 27 Juni 2018 status Prabowo menjadi capres 2019. Tapi entah saat pendaftaran capres/cawapres secara resmi di KPU.

Komentar

x