Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Juli 2018 | 19:49 WIB
 

Baca Puisi Saat Pledoi, Novanto Jadi Trending

Oleh : Azwar | Jumat, 13 April 2018 | 13:42 WIB
Baca Puisi Saat Pledoi, Novanto Jadi Trending
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta Ada momen menarik saat pembacaan pledoi atau nota pembelaan tersangka korupsi ktp-el, Setya Novanto, hari ini. Novanto membacakan sebuah puisi. Namanya pun kemudian diperbincangkan warganet karena reaksi hakim.

Puisi yang dibacakan Setya Novanto saat menutup pembacaan nota pembelaannya di depan para hakim di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Kemayoran, Jakarta Pusat , itu berjudul "Di Kolong Meja".

Dalam puisi 10 bait itu, Setya Novanto salah satunya menyindir rekan-rekan sejawatnya yang dikatakan memiliki 'mental banci' dan hanya bisa melihatnya duduk di kursi pesakitan.

Di Kolong Meja

Di kolong meja ada debu yang belum tersapu karena pembantu sering pura-pura tak tahu.

Di kolong meja ada biangnya debu yang memang sengaja tak disapu.

Bersembunyi berlama-lama karena takut dakwaan seru melintas membebani bahu.

Di kolong meja tersimpan cerita seorang anak manusia menggapai hidup, gigih dari hari ke hari meraih ilmu dalam keterbatasan.

Untuk cita-cita kelak yang bukan semu tanpa lelah dan malu bersama debu menghirup udara kelabu.

Di kolong meja muncul cerita sukses anak manusia, yang semula bersahaja akhirnya bisa diikuti siapa saja karena cerdas caranya bekerja.

Di kolong meja ada lantai yang mulus tanpa cela, ada pula yang terjal bergelombang siap menganga menghadang segala cita-cita.

Apabila ada kesalahan membahana, kolong meja siap membelah, menerkam tanpa bertanya bahwa sesungguhnya ada berbagai sosok yang sepatutnya jadi sasaran.

Di kolong meja ada pecundang yang bersembunyi sembari cuci tangan, cuci kaki, cuci muka, cuci warisan kesalahan.

Apakah mereka akan senantiasa di sana, dengan mental banci, berlumur keringat ketakutan dan sesekali terbahak melihat teman sebagai korban menjadi tontonan?

Jakarta 5 April 2018

Pembacaan puisi oleh Setya Novanto itu kemudian menarik perhatian warganet. Kata kunci "Setya Novanto" pun, saat artikel ini dibuat, telah bicarakan sebanyak lebih dari 2.500 kali.

Mantan editor senior Jakarta Globe, Bastiaan Scherpen, mencuitkan tentang pembacaan puisi oleh SetNov itu dan menyebut reaksi hakim ketua, Yanto, yang tampak mendelik.

"Corruption suspect Setya Novanto took some time to recite a poem as part of his defense plea today. Judge didn't look too impressed," cuit @bscherpen

Ada juga yang mencuitkan harapan agar kasus korupsi KTP elektronik ini tidak lantas terhenti di Setya Novanto.

"Puisi 'Di Kolong Meja' Setya Novanto ini menggambarkan perasaan orang yang merasa keadilan hanya tajam ke dirinya tapi tidak untuk mereka yg lain yg sama2 meraup untung di bawah kolong meja. Semoga untuk urusan E-KTP, KPK tidak berhenti hanya di Setya Novanto," cuit @Stelacnau. [rok]

Komentar

x