Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 April 2018 | 17:35 WIB
 

Kasus Dr Terawan, Ujian Supremasi Etik Kedokteran

Oleh : R Ferdian Andi R | Senin, 9 April 2018 | 19:15 WIB
Kasus Dr Terawan, Ujian Supremasi Etik Kedokteran
Dokter Terawan Agus Putranto - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Polemik pemecatan sementara 12 bulan oleh Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) kepada Dokter Terawan Agus Putranto terus berlanjut. Pembelaan mengalir dari sejumlah tokoh mulai Prabowo Subianto hingga SBY. Kasus ini sejatinya ujian atas supremasi etik profesi kedokteran.

Sejumlah tokoh nasional memberi dukungan dan pembelaan terhadap Dokter Terawan Agus Putranto. Ini lantaran tak sedikit tokoh politik nasional merasa puas dengan tangan dingin dokter Terawan ini.

Seperti SBY menyebutkan agar tidak memvonis begitu saja terhadap Dokter Terawan. Ia menyarankan agar dicarikan jalan keluar bersama-sama. "Jangan divonis begitu saja. Tapi saya juga menghormati IDI. Jadi menurut saya duduklah bersama mencari solusi," saran SBY.

Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati berpendapat moderat. Menurut dia, posisi Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) merupakan organ penting bagi profesi dokter. "Posisi MKEK sebagai judicial ethic terhadap profesi kedokteran merupakan organ penting di profesi kedokteran yang salah satu fungsinya untuk menegakkan kehormatan profesi dokter serta bagian tidak terpisahkan dari aspek perlindungan terhadap pasien," ujar Okky.

Di menyebutkan jika merujuk Pedoman Etik MKEK, putusan yang diterima Dokter Terawan tergolong sanksi berat. Dia meminta dalam melihat kasus tersebut dilihat secara menyeluruh. "Sanksi tersebut harus dilihat secara holistik, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penegakan etik profesi dokter," tegas Okky.

Menurut Okky, inovasi yang dilakukan dokter Terawan terbukti memunculkan testimoni positif dari publik. Hal tersebut, imbuh Okky, tidak bisa dinafikan. "Kendati demikian, persoalan etik yang menjerat Dokter Terawan juga fakta yang juga tidak bisa ditutupi. Persoalan internal di profesi dokter ini juga harus mendapat perhatian serius, khususnya oleh Dokter Terawan," sebut Okky.

Sementara terpisah guru besar FH UI Jimly Ashiddiqie menilai perlaku etik para profesional harus dibedakan dari substansi pekerjaan beserta hasilnya. "Dengan begitu, orang hebat dan terkenal dengan karyanya jangan pula dinilai pasti benar dan harus dibela hanya karena kehebatan karyanya," ujar Jimly, Jumat (6/4/2018).

Jimly menyebutkan etika pribadi dibedakan dengan etik yang menyangkut urusan publik. Oleh karenanya, kata mantan Ketua Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) ini, proses penegakan etika profesi sudah seharusnya tidak boleh tertutup.

"Karena masyarakat umum berhak untuk tahu apa yang salah sebagai objectum litisnya, dan siapa saja para pihak atau pengadu maupun siapa yang diadukan, lalu bagaimana pembuktiannya, apa ada forum bela diri yang cukup untuk mendengar semua pihak," urai Jimly.

Dia menyebutkan jika ada pandangan yang menyebut soal etika merupakan urusan privat dan dirahasiakan hal tersebut merupakan pikiran yang bersumber dari teori lama. "Itu sudah ketinggalan zaman. Maka orang mesti fokus memperhatikan aspek jabatan publiknya yang berhubungan dengan kepentingan umum yang setiap warga masyarakat untuk mengetahui segala sesuatu yang terkait dengan perilaku dalam pekerjaan professional yang bersangkutan, " tandas Jimly.

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x