Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Selasa, 16 Oktober 2018 | 09:53 WIB

Polri Gandeng SAS Institute Tangkal Radikalisme

Oleh : Ajat M Fajar | Sabtu, 7 April 2018 | 11:50 WIB

Berita Terkait

Polri Gandeng SAS Institute Tangkal Radikalisme
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Said Aqil Siroj Institute (SAS) bertemu dengan Kaporli Jenderal Pol Tito Karnavian, Jumat (6/4) kemarin untuk membahas masalah-masalah intolerasi dan radikalisme yang selama ini menjadi permasalahan keamanan.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menegaskan, saat ini ada dua ideologi yang ditawarkan dalan rangka radikalisme agama. Masing-masing terdiri dari kelompok Takfiri, yang berasosiasi dengan ISIS, dan kelompok Salafi-Jihadi yang berada pada jalur komando Al-Qaeda.

"Organisasi seperti SAS Institute semakin banyak, semakin bagus. Karena gerakan sipil seperti ini akan mencegah radikalisasi agama, serta melakukan diseminasi Islam damai, Islam Nusantara" papar Tito.

Tito juga berharap masyarakat luas bisa terlibat aktif dalam program Kontra Radikalisasi. Organisasi seperti SAS Institute bisa melakukan kerja sama dalam program itu.

Direktur SAS Institute, M. Imdadun Rahmat menyatakan akan komit bersama pihak Kepolisian menjaga keberagaman dan toleransi umat beragama.Pasalnya, SAS merupakan sebuah gerakan masyarakat sipil yang fokus pada isu Islam Nusantara, perdamaian dan toleransi

"Sebagaimana yang sudah dipaparkan Pak Kapolri, deradikalisasi itu proses. Ada ideologi kekerasan, ada aktor yang memproduk dan menyebarkannya, ada target yang disasar dan ada medianya. Kita harus bekerja untuk mebendung ideologinya, membatasi ruang gerak aktor-aktornya, menghambat medianya dan memagari masyarakat agar tidak terpapar. Paling kurang dengan melemahkan dan memutus salah satunya, proses deradikslisasi akan jauh melemah," katanya.

Menurut dia, SAS Institute hadir atas desakan situasi dimana ideologi kekerasan semakin berkembang di Indonesia. Radikalisasi agama adalah salah satu contoh, seperti halnya Islam selalu digunakan untuk membenarkan kekerasan atas nama agama, demikian papar Imdad.

Secara tegas dan lugas, SAS Institute akan bersama-sama pemerintah menjaga nilai-nilai Pancasila dan Islam Nusantara sebagai warisan para Wali.

"Kita melawan, dengan cara-cara yang damai dan edukatif. Narasi-narasi kekerasan kita modrasi dengan Islam rahmatan lil alamin, Islam Nusantara" tutup Imdadun Rahmat.[jat]

Komentar

Embed Widget
x