Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 April 2018 | 17:41 WIB
 

Sohibul Singgung Tax Amnesty, Caleg PSI Bereaksi

Oleh : Abdullah Mubarok | Selasa, 3 April 2018 | 23:27 WIB
Sohibul Singgung Tax Amnesty, Caleg PSI Bereaksi
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Calon anggota legislatif dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Rian Ernest ikutan nimbrung dalam obrolan di media sosial Twitter, Selasa (3/4/2018).

Melalui akun twitternya @rianernesto, Ernest menanggapi pernyataan panjang Presiden PKS Sohibul Iman @msi_sohibuliman terkait cuitan doktor hukum dan pengurus NU Nadirsyah Hosen @na_dirs.

Nadirsyah Hosen mengatakan kepada Sohibul mengenai anggapan bahwa kegaduhan politik yang terjadi saat ini karena PKS yang berada di luar pemerintahan.

Yang bikin Ernest mau 'gabung' karena pernyataan Sohibul melebar ke tax amnesty yang sudah lama lewat. Berikut cuitan Sohibul:

Kembali saya tegaskan sumber kegaduhan politik kita berasal dr dlm Kabinet itu sendiri. Saya yakin pak @jokowi memahami hal ini n akan sgr evaluasi n koreksi jalannya pemerintahan. Smg mas @na_dirs tdk ikut2an orang2 yg menuduh cermin sbg penyebab buruknya muka lalu dibelahnya

Banyak contoh lain sikap PKS yg substantif n tdk gaduh, sprt penolakan Perppu Ormas n PT 20%, jg sbg inisiator RUU Kewirausahaan n RUU Ketahanan Keluarga, serta terdepan suarakan kepedulian NKRI pd tragedi Rohingya, dll. Lalu dimana letak sumber kegaduhannya? Cc: @na_dirs

Meski kalah sampai pengesahan PKS tdk tempuh JR ke MK krn wilayah kami di DPR, begitu kalah scr politis ya kami terima. Biarlah JR domain masyarakat. Bahkan para aleg kami pun ikut sosialisasi UU TA. Ini bentuk kepatuhan kami pd kesepakatan kolektif. Kami bukan poltisi childish.

Meski kalah PKS tdk mutung tp ttp ikut pembahasan dg harapan bs kawal substansinya agar tdk melenceng. Sampai rpt paripurna pengesahan PKS punya 6 catatan untuk divoting, tp pimpinan sidang tdk gubris. Lalu UU TA disahkan dimana hanya PKS yg keberatan dg 6 poin tadi. cc: @na_dirs

Menanggapi hal itu, Ernest menjelaskan pemerintahan Jokowi sadar betul bahwa pembangunan infrastruktur tidak bisa ditunda, untuk mengejar pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Indonesia sudah terlalu lama tertinggal negara lain. Di masa SBY, rerata rasio PDB thd infrastruktur hanya 1,6%. Bandingkan dgn Cina & India yg di masa sama, masing2 5,3% dan 7,3%. Di masa Jokowi besarannya menjadi 3-4%.

"Mau tidak mau Tax Amnesty jadi jalan. Dan siap tidak populer, karena memang dampak ekonomi dari pembangunan infrastruktur akan terasa di jangka panjang, bukan dalam jangka pendek. Jokowi tegas serta negarawan. Berpikir jangka panjang," kata Ernest.

Terkait isu tax amnesty yang disampaikan Sohibul, Ernest mengatakan dari 3 program TA, hanya satu yang mencapai target, yakni deklarasi aset sebesar 4,855 triliun atau 121% dari target. Sedangkan, pendapatan pajak dan repatriasi aset tidak mencapai target.

"Tapi ada dua hal di sini, pertama, target pendapatan pajak memang terlalu ambisius dikarenakan basis wajib pajak yang kurang kuat. Kedua, aset di luar negeri bukan hanya aset cair, tapi properti dan surat hutang. Bagaimana bisa repatriasi?" jelasnya.

Ernest sepakat dengan Sohibul bahwa kita lebih butuh tax reform atau reformasi pajak. Namun, republik ini membutuhkan dana segera mengembangkan jaringan infrastruktur. Apakah bisa rakyat menunggu terlalu lama?

"Inilah ketegasan Presiden kita Jokowi. PR kita bersama, mari kita kawal terus program tax reform dari Pak Jokowi, mengejar tax rasio dari Produk Domestik Bruto kita yang masih sekitar 10%, tertinggal dari Malaysia dan Thailand yang sekitar 15%," katanya.

"Belum lagi mantan Gubernur Sumut Gatot Pujo dan mantan Presiden PKS, Lufti Hasan yang sukses berompi oranye @kpk_ri. Mereka adalah anggota @pksejahtera," tulis Ernest, menambahkan.

Di akhir cuitannya, Ernest menilai Sohibul tidak menjawab pernyataan Nadir soal kegaduhan politik dan isu SARA karena PKS tidak ada di dalam pemerintahan.

"Ada pertanyaan yang tidak terjawab. Mari kita Kerja, Kerja, Kerja! Bukan warning, warning, warning! #GenerasiOptimis," tulisnya. [rok]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x