Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 18 Oktober 2018 | 17:41 WIB

Menhub Akui Tak Tahu Soal Suap Lewat ATM

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Rabu, 28 Maret 2018 | 18:43 WIB

Berita Terkait

Menhub Akui Tak Tahu Soal Suap Lewat ATM
Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengaku tak tahu ada modus suap via ATM di kementeriannya.

"Ketika saksi menjabat, ada beberapa pejabat eselon II yang menerima ATM yang diberikan oleh Adi Putra Kurniawan. Apakah saksi pernah mengonfirmasi atau menanyakan terkait pemenang lelang? Apakah saudara mendengar pemberian ATM sudah dilakukan lama?" tanya jaksa kepada Budi saat menjadi saksi dalam sidang lanjutan kasus suap eks Dirjen Hubla di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Rabu (28/3/2018).

"Untuk pemberian ATM, saya tidak pernah tahu, tapi praktik-praktik itu ada makanya saya melakukan kegiatan-kegiatan pembersihan di Medan, Surabaya, dan Samarinda. Itu ada dengan cara yang lain dan kita sudah lakukan penertiban," jawab Budi.

Adi Putra merupakan mantan Komisaris PT Adhiguna Keruktama yang telah didakwa sebelumnya menyuap Tonny. Adi menyuap Tony melalui ATM.

Budi mengaku tak mengetahui nama Adi Putra atau nama samaran yang kerap digunakan oleh Adi. Dia baru mengetahui kasus suap itu usai KPK melakukan OTT. Jaksa kemudian bertanya soal sosok Yeyen dan Yongki kepada Budi.

"Saudara kenal Yeyen atau Yongki?" tanya jaksa.

"Tidak pernah mendengar dan tidak pernah mengenal," jawab Budi.

Sebelumnya, Tonny didakwa menerima suap Rp2,3 miliar dari Komisaris PT Adhiguna Keruktama Adiputra Kurniawan. Suap itu diberikan terkait pengerjaan pengerukan empat pelabuhan di sejumlah daerah.

Empat pelabuhan yang diterbitkan Surat Izin Kerja Keruk (SIKK) oleh Tonny adalah pengerukan alur pelayaran pelabuhan Pulau Pisau Kalimantan Tengah, Pelabuhan Samarinda, pengerukan Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, pengerukan di Bontang Kalimantan Timur, dan pengerukan di Lontar Banten.

Uang itu diterima Tonny melalui kartu ATM atas nama Yongkie dan Joko Prabowo.

Selain menerima suap, Tonny juga didakwa menerima gratifikasi dari sejumlah pihak berupa uang tunai Rp5,8 miliar, US$479.700, 4.200, 15.540, Sin$ 700.249, dan RM11.212.

Selain itu, uang di rekening Bank Bukopin atas nama Oscar Budiono Rp1,066 miliar dan Rp1,067 miliar dan uang di rekening BRI atas nama Wasito dan BCA Rp300 juta.

Tonny juga menerima gratifikasi perhiasan berupa cincin yang harganya ditaksir mencapai Rp175 juta serta sejumlah barang yakni jam tangan, pena, dompet, hingga gantungan kunci. [ton]

Komentar

Embed Widget
x