Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 17:16 WIB

Unggul di Survei, Dedi Mulyadi Merasa Masih Kurang

Rabu, 14 Maret 2018 | 20:26 WIB

Berita Terkait

Unggul di Survei, Dedi Mulyadi Merasa Masih Kurang
Calon Wakil Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Bandung - Calon Wakil Gubernur Jawa Barat nomor urut 4 Dedi Mulyadi mengatakan hasil survei Litbang Kompas yang menyatakan elektabilitas Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi menempati urutan pertama menjadi motivasi dirinya terus bekerja lagi untuk masyarakat.

"Jadi cara kampanye saya itu berbeda dengan orang pada umumnya, saya lebih cenderung memberikan pelayanan dari rumah ke rumah, dari kampung ke kampung, apa yang bisa saya perbuat, saya perbuat ketika saya keliling," kata Dedi Mulyadi, di Bandung, Rabu (14/3/2018).

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Litbang Kompas usai Debat Publik Pertama Pilgub Jawa Barat 2018, elektabilitas pasangan Deddy-Dedi mencapai 42,8 persen suara.

Disusul kemudian pasangan Rindu atau Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul yang memperoleh 39,9 persen. Sementara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) meraih 7,8 persen dan pasangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) menggaet 3,1 persen. Adapun 6,4 persen responden tidak menjawab atau rahasia.

Mantan Bupati Purwakarta ini menyatakan tidak akan langsung berpuas diri dengan hasil survei tersebut malah hasil survei dari Litbang Kompas tersebut akan menjadi pemicu untuk semakin meningkatkan lagi dalam bekerja.

"Kalau saya pribadi sampai saat ini masih merasa tertinggal, karena masih merasa tertinggal maka kita harus bekerja keras," katanya.

Dia mengatakan akan terus melakukan komunikasinya dengan berbagai pihak, utamanya mengunjungi masyarakat setiap harinya dengan memberikan solusi terbaik untuk setiap masalah yang ditemui di masyarakat.

"Insha Allah saya mengunjungi masyarakat setiap hari, memberikan solusi yang terbaik untuk masyarakat saat ada masalah, satu masalah tiga ribu solusi, " katanya.

Dia juga mengakui tidak membuat program kerja dengan penamaan istilah seperti calon lainnya karena ia menilai seringkali saat membuat program dengan banyak istilah, maka akan semakin kosong program tersebut.

"Selama ini memang kebiasaan kita dalam membuat program pembangunan kita buat istilah, istilah-istilah itu tidak substansial, saya sampai hari ini tidak mau banyak buat buat istilah, yang penting bekerja saja dirasakan oleh masyarakat, sehingga sering kali kita terlalu genit terhadap istilah, tapi targetnya tidak tercapai," kata Dedi.[tar]

Komentar

x