Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 20 Juli 2018 | 10:08 WIB
 

Wayan Kritik Habis JPU Lakukan Kesalahan Fatal

Oleh : Ivan Setyadi | Rabu, 14 Maret 2018 | 03:16 WIB
Wayan Kritik Habis JPU Lakukan Kesalahan Fatal
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kubu Cristoforus Richard merasa kecewa atas hasil sidang tuntutan yang dibacakan hari ini di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Bukan hanya soal besarnya tuntutan jaksa, namun Cristoforus merasa dirugikan atas keputusan jaksa yang tidak menghadirkan saksi penting dalam perkara ini.

"Harusnya jaksa ini tidak layak menjadi jaksa di Indonesia. Pertama dia melanggar pasal 160 ayat 1 c, atau jangan-jangan dia tidak tahu jaksa itu," kata Penasihat Hukum Cristoforus, Wayan Sudirta kepada wartawan, Selasa (13/3/2018).

Pasal 160 ayat 1 c berisi tentang diperbolehkannya pemanggilan saksi meskipun sudah masuk sidang tuntutan. Sebab sejak awal kasus ini bergulir dipersidangan, tak sekalipun jaksa menghadirkan saksi atas nama Eny Sulaksono.

"Sehingga saksi Eny Sulaksono yang sudah ada dalam BAP, dibacakan tidak, dihadirkan juga tidak. itu pelanggaran fatal," ungkapnya.

Padahal dalam surat dakwaan, saksi Eny punya porsi cukup besar yakni 19 halaman. Wayan menekankan seberapa penting kesaksian Eny dalam memperjelas perkara hukum yang menjerat kliennya tersebut.

"Penting, sangat penting. Sebab dia mengatakan saksi Jose Rizal disini mencabut keterangan. Di Dua akta notaris dia disebut pemegang saham dan direktur, ini dipakai dasar membuat akta. Tapi itu dibatalkan disini. Berarti dia takut resikonya. Dengan dibatalkan ini berartikan segal perbuatan hukumnya menjadi batal secara otomatis," bebernya.

Dengan tidak adanya kebenaran akan kesaksian Eny, Wayan mengaku dirugikan bahkan seperti sengaja dijerumuskan. "Seumur hidup saya baru ini melihat jaksa senekat ini melanggar UU. Belum ada jaksa yang mengabaikan keterangan saksi yang ada di BAP," keluhnya.

Belum lagi tuntutan jaksa yang dianggapnya berlebihan. Padahal di tingkat perdata dan PTUN, kliennya menang dan berhak atas kepemilikan lahan di Ungasan, Bali.

"Dalam kasus ini banyak manipulasi. Banyak aktor-aktor di depan dan dibelakang. Ini hanya ada aktor besar yang bisa menggerakkan aparatur seperti ini," kritiknya.

Kasus ini semula merupakan perkara perdata yang telah dimenangkan kliennya ditingkat kasasi. Tapi belakangan kliennya dipidanakan di pengadilan negeri Jakarta Selatan. Kliennya diduga melanggar pasal 263 KUHP Terkait pemalsuan akta 2 bidang tanah seluas ,6,9 ha dan 7 ha milik PT. Nusantara Raga Wisata.[jat]

Komentar

x