Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 04:50 WIB
 

Kunci Poros Ketiga, Figur dan Program Baru

Oleh : R Ferdian Andi R | Sabtu, 10 Maret 2018 | 04:29 WIB
Kunci Poros Ketiga, Figur dan Program Baru
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Dalam beberapa pekan terakhir wacana poros ketiga menjadi bahan perbincangan di publik. Poros baru ini juga bisa disebut sebagai antitesa dari kekuatan 2014 yakni Joko Widodo dan Prabowo Subianto. Bagaimana peluangnya?

Dari sisi terminologi, kekuatan ketiga tentu bukanlah hal yang mustahil terjadi. Setidaknya, Pemilu 2019 mendatang bisa terprediksi konstalasi kekuatan partai politik peserta pemilu yang berhak mencalonkan presiden dan wakil presiden.

Hal ini tidak terlepas dari ketentuan Pasal 222 UU No 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum (Pemilu) yang memuat syarat pencalonan presiden harus memenuhi 20% kursi DPR dan 25% suara sah nasional merujuk hasil Pemilu 2014. Atas dasar tersebut Pemilu 2019 mendatang setidaknya memungkinkan tiga pasang capres. Di sinilah relevansi poros ketiga.

Pertanyaannya, siapa saja yang bisa mengkonsolidasi di poros baru ini? Apakah berbasis pengelompokan isu agama? atau pengelompokan golongan partai politik berbasis suara, misalnya partai tengah atau berbasis siapa capres yang diusung? Identifikasi tiga pengelompokan tersebut cukup penting untuk mencari benang merah di antara partai politik peserta pemilu 2014 termasuk partai politik peserta pemilu 2019.

Pengelompokan untuk membentuk poros baru di atas kertas memang mudah. Namun, dalam praktiknya, tidak mudah untuk mewujudkan gagasan tersebut. Setidaknya, dibutuhkan satu isu (common issue) untuk menyatukan partai politik yang berada di poros ini. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) setidaknya telah memulai dengan gagasan segar #2019GantiPresiden.

Gagasan 2019 ganti presiden bisa menjadi alat pemersatu bagi partai politik di kelompok ini. Meski, bukan perkara mudah juga di poros ini dengan isu ini. Setidaknya, butuh figur pemersatu yang mampu merekatkan antarpartai politik. Dibutuhkan sosok yang memiliki karakter kuat yang bisa menandingi figuritas Jokowi dan Prabowo.

Figur memiliki nilai penting untuk memastikan kandidat yang diusung menang dalam kontestasi melalui Pilpres. Namun, di poin ini pula titik krusial terjadi. Dibutuhkan sikap kenegarawanan elit partai politik dalam menentukan siapa yang diusung diporos ini. Jalan rasional yang bisa ditempuh dengan merujuk hasil riset terkait siapa figur yang kuat dan dirindukan oleh masyarakat.

Belajar dari Pemilihan Presiden pada 1999, kenaikan KH Abdurrahman Wahid sebagai Presiden melalui poros tengah yang digagas sebagai politik antitesa dari dua kelompok yang saling berseteru saat itu, dapat menjadi inspirasi dari kelompok ini.

Selain itu, poros baru selain melahirkan figur baru, yang utama juga harus menawarkan program baru dan berbeda dari kandidat petahana termasuk dari kubu Prabowo. Gagasan baru ini penting untuk menjadi pembeda dengan kekuatan politik lama yang telah diketahui jejak kerjanya.

Komentar

 
x