Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 20 Juni 2018 | 12:31 WIB
 

Aher-Karwo Akhiri Perang Sunda-Jawa

Oleh : Fadli Zikri | Rabu, 7 Maret 2018 | 12:33 WIB
Aher-Karwo Akhiri Perang Sunda-Jawa
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Suku Sunda dan Jawa mengakhiri perang dingin yang telah terjadi selama 661 tahun lalu. Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan dan Gubernur Jawa Timur (Jatim) Soekarwo memprakarsai rekonsiliasi budaya dua etnis suku tersebut.

Rekonsiliasi ditandai dengan pemberian nama Jalan kerajaan Majapahit dan Hayam Wuruk di Kota Bandung. Kemudian pemberian nama Jalan Prabu Siliwangi dan Jalan Sunda di Kota Surabaya.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan (Aher) mengatakan, rekonsiliasi Sunda dan Jawa yang diwujudkan melalui hadirnya simbol Sunda pada dua ruas jalan di Jatim itu merupakan hal yang baik.

"Nama Jalan Majapahit akan menggantikan Jalan Gasibu di tengah kota. Kemudian Jalan Kopo diganti Jalan Hayam Wuruk. Penggantian nama kedua jalan ini dilakukan pada April atau awal Mei 2018," katanya Aher di
Surabaya, Rabu (7/3/2018).

Adapun nama Jalan Prabu Siliwangi di Surabaya menggantikan nama Jalan Gunungsari, dan Jalan Sunda menggantikan Jalan Dinoyo. Dengan diberikannya nama jalan tersebut menjadikan Jalan Prabu Siliwangi berdampingan dengan Jalan Gajah Mada. Sedangkan Jalan Sunda berdampingan dengan Jalan Majapahit.

"Lewat peristiwa ini, permasalahan antara etnis Jawa dan Sunda yang terjadi sejak 661 tahun lalu, selesai hari ini. Alhamdulillah, baik saya dan Pak Aher akhirnya bisa menemukan satu titik kesamaan," kata Gubernur Jawa Timur Soekarwo.

Soekarwo menambahkan, rekonsiliasi dua etnis suku tersebut penting dilakukan untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya antara etnis Sunda dan Jawa. Pasalnya, akibat tragedi Pasundan Bubat, kedua etnis ini kerap berselisih dalam berbagai hal yang menyangkut hubungan kemanusiaan, seperti perkawinan, pendidikan dasar, dan lainnya.

"Tragedi Pasundan Bubat adalah perang antara kerajaan Majapahit dan Kerajaan Sunda yang terjadi pada abad ke-14 tepatnya pada 1357. Perang itu akibat kesalahpahaman antara Gajah Mada sebagai patih Kerajaan Majapahit," ungkap Soekarwo.

Kemudian, Anepaken sebagai patih Kerajaan Sunda keliru dalam mengartikan sebuah pertemuan persuntingan putri kerajaan Sunda, Diah Pitaloka oleh Raja Majapahit, Hayam Wuruk. Kesalahpengertian ini mengakibatkan peperangan, yang mengakibatkan raja Sunda, isterinya, serta putri Diah Pitaloka dan pasukannya meninggal dunia.

"Jauhnya jarak antara peristiwa perang Bubat dengan munculnya beberapa naskah kuno hingga 200 tahun berikutnya, seperti Kidung Sundayana diduga sebagai upaya divide et impera (politik adu domba) Penjajah," ujar Karwo.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga hadir dalam acara rekonsiliasi tersebut mengatakan, pemberian nama-nama jalan ini diharapkan memutus sejarah kelam 661 tahun lalu atas tragedi Bubat .

"DIY telah meletakkan nama Jalan Siliwangi, Pajajaran dan Majapahit menjadi satu kesatuan jalan dalam satu jalur. Mulai ruas simpang Pelemgurih ke Jombor, diteruskan sampai di simpang tiga Maguwoharjo, dan dilanjutkan lagi hingga simpang Jalan Wonosari," tutupnya. [rok]

Tags

Komentar

 
Embed Widget

x