Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 10 Desember 2018 | 21:33 WIB

Matikan Sistem Navigasi, Polri Jerat Nahkoda Yacht

Oleh : Muhammad Yusuf Agam | Kamis, 1 Maret 2018 | 23:16 WIB

Berita Terkait

Matikan Sistem Navigasi, Polri Jerat Nahkoda Yacht
Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen M Iqbal - (Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Mabes Polri membuka kemungkinan untuk menjerat kapten Rolf lantaran mematikan sistem navigasi Kapal di perairan Indonesia.

Nakhoda yacht senilai Rp3,5 triliun, Kapten Rolf diduga ingin mengelabuhi kejaran aparat kepolisian.

Meski kasus korupsi 1MDB sedang diusut oleh otoritas Amerika Serikat dan FBI. Polri yang membantu menyita kapal tersebut dinilai bisa mengambil penyelidikan terhadap kapten Rolf yang melakukan pelanggaran karena mematikan sistem navigasi Kapal.

"Tindakan selanjutnya setelah ada koordinasi dan hasil penyelidikan akan melakukan gelar perkara untuk menetapkan nakhoda Mr Rolf sebagai tersangka," kata Karo Penmas Divisi Humas Mabes Polri Brigjen M Iqbal dalam keterangan rilisnya, Kamis (1/3/2018).

Iqbal menerangkan kapten Rolf sengaja mematikan sistem navigasi Kapal selama berada di wilayah perairan Indonesia. Tujuannya agar kapal tersebut tak dilacak oleh aparat kepolisian yang memang menjadi buron sejak 2015 lalu.

"Diketahui bahwa kapal Pesiar Equanimity tersebut sedang melakukan pelayaran ke wilayah perairan Indonesia, diduga hal tersebut dilakukan untuk menghindari atau menyembunyikan dari otoritas Amerika yang mempunyai perintah penyitaan tersebut," ucap Iqbal.

Kapal Yacht supermewah itu diamankan oleh Polri atas permintaan FBI di Bali pada Rabu (28/2). Kapal itu disebut telah menjadi buron sejak 2015 dan bersembunyi di wilayah Indonesia dari otoritas Amerika Serikat.

Dari kapal itu, tim dari Bareskrim Polri menginterogasi 29 ABK dan seorang nakhoda yaitu Kapten Rolf. Seluruh ABK itu diinterogasi atas riwayat perjalanan mereka. Polisi juga menyita sejumlah dokumen saat melakukan penggeledahan.

Berdasarkan pengadilan AS, kapal ini dimiliki seorang miliuner asal Malaysia, Jho Low. Low terjerat kasus korupsi transfer dana USD 1 miliar dari pihak berwenang Malaysia ke rekening pribadi.[jat]

Komentar

x